The Inter-Agency Network for Education in Emergencies (INEE)
The Inter-Agency Network for Education in Emergencies (INEE) Jejaring Antar Lembaga untuk Pendidikan dalam Situasi DArurat adalah suatu jejaring terbuka global perwakilan-perwakilan dari NGOs, badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemerintah, lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dan masyarakat terkena bencana yang bekerja sama untuk memastikan semua orang memperoleh hak atas pendidikan yang bermutu dan aman dalam situasi darurat dan pemulihan pasca krisis.
Pelatihan SPHERE 2011 TOT, 27 Nov–3 Des 2011, Kerjasama MPBI - IFRC
Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) bekerjasama dengan International Federation of Red Cross and Red Cresent Societies (IFRC) telah menyelenggarakan SPHERE 2011 Training of Trainers. Pelatihan pelatih ini bertaraf internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Pelatihan diselenggarakan di D’Agape Residence Gadog, Bogor dari tanggal 27 Nov – 3 Des 2011. Pelatihan diikuti oleh 22 orang mitra latih yang terdiri dari 8 perempuan dan 14 laki-laki berasal dari IFRC, Palang Merah Indonesia, Palang Merah Belgia, Palang Merah Italia, Palang Merah Australia, Palang Merah Kanada, Action Contre le Faim, Save the Children, The Johanniter International dan World Vision International.
Laporan Kondisi Kesukarelaan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global
Laporan Kondisi Kesukarelaan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global
The United Nations Volunteers (UNV) meluncurkan “Laporan Kondisi Kesukarelawanan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global (State of the World’s Volunteerism Report 2011: Universal Values for Global Well-being)" pada tanggal 5 Desember 2011 New York, Amerika Serikat. Laporan ini diharapkan dapat meningkatkan pengakuan, fasilitasi, dan promosi jaringan di seluruh dunia kesukarelaan. Ini juga akan meningkatkan pengakuan atas peran penting dari UNV sebagai organisasi yang menetapkan standar dalam damai dan pembangunan, serta kesukarelaan, dalam sistem PBB.
Focus: “Do you want to be a man or a woman in the reincarnation?” A reflection on gender after disaster in Nias Island, Indonesia!
Focus: “Do you want to be a man or a woman in the reincarnation?” A reflection on gender after disaster in Nias Island, Indonesia!
Foto-foto KN PRBBK VII
Foto-Foto KN PRBBK VII dapat Diakses di Website MPBI
Jakarta, 14 Desember 2011
Peran OMS dalam Pemulihan Bencana Pasca Erupsi G. Merapi oleh Eko Teguh Paripurno
Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pemulihan Bencana Pasca Erupsi G. Merapi
Oleh: Eko Teguh Paripurno
Pusat Studi Amanajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta
pemulihan belum selesai.
mari kita lakukan pemulihan yang lebih baik.
Kebijakan RR Berbasis Pemberdayaan Masyarakat oleh Bambang Sulistianto
Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Oleh: Ir. Bambang Sulistianto, MM
Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB
LATAR BELAKANG
- Kebijakan pembangunan perlu mengakomodasikan PB agar kegiatan PB pada semua tahapan memberikan manfaat bagi masyarakat di bidang ekonomi, sosial, politik, keamanan & lingkungan.
- Kegiatan rehab & rekon merupakan bagian penting dalam rangka memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Pendekatan Kultural dalam Relokasi oleh Rani Sjamsinarsi
Pendekatan Kultural dalam Relokasi
Oleh Ir. Rani Sjamsinarsi, MT
Kepala Dinas PUP-ESDM PROVINSI DIY
Kerusakan Infrastruktur Publik, Korban dan kerusakan milik masyarakat
Ke-PU an
61,8 Km Jalan
26 Sabo Dam
64 Sistim Perpipaan Air Minum Pedesaan (SPAMDES) , tidak bisa berfungsi
3 Sistim PDAM tidak berfungsi
51 bendung tidak berfungsi
22 Jembatan putus
2 intake Saluran Induk Irigasi tertutup material
Mendesakkan Komunitas dalam Pemulihan Pasca-Bencana oleh Hasan Bachtiar
Mendesakkan “Komunitas” dalam Pemulihan Pasca-Bencana: Refleksi atas Pengalaman Advokasi FPRB-DIY dalam Pemulihan Pasca-Bencana Erupsi dan Lahar Gunungapi Merapi 2010—2011
Oleh Hasan Bachtiar
Seperti sudah banyak diketahui khalayak, Bencana Gunungapi Merapi 2010—2011 di Provinsi DI Yogyakarta, yang sekaligus melanda pula Provinsi Jawa Tengah, dalam kerangka kebijakan penyelenggaraan penanggulangannya, telah diputuskan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk “dipilah” menjadi dua, yakni Erupsi dan Lahar, yang berlangsung sebagai suatu rangkaian peristiwa. Bencana Erupsi Merapi 2010 telah menimbulkan korban manusia sebanyak 386 jiwa, penduduk mengungsi selama tanggap-darurat mencapai 15.366 orang, perkiraan nilai kerusakan dan analisis kerugiannya mencapai Rp3,628 triliun, serta estimasi biaya pemulihannya menembus angka Rp1,350 triliun; sedangkan kronologi, akibat, dampak, hingga kebutuhan pemulihan pasca-bencana Lahar Merapi 2011, sampai naskah ini ditulis, belum pernah secara resmi disiarkan oleh otoritas penanggulangan bencana nasional maupun daerah kepada publik.
Strategi Adaptasi Respon Pemerintah dan DPRD Mengintegrasikan PRB oleh Nuwirman
Strategi Adaptasi terhadap Respon Pemerintah dan DPRD dalam Mengintegrasikan Agenda Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dalam Kebijakan Pembangunan Daerah
Oleh: Nuwirman
a. Pengantar
Sebagian besar daerah kabupaten kota di Sumatra Barat merupakan daerah rawan bencana. Tidak sedikit masyarakatnya “masih merasakan” dampak gempa 30 September 2009 (psikis, psikologis, sosial budaya dan ekonomi), dampak gempa dan tsunami Mentawai dan banjir bandang di Pesisir Selatan. Fakta menunjukan, bahwa pemerintah daerah memiliki “keterbatasan anggaran” untuk upaya-upaya“kesiapsiagaan-mitigasi bencana”. Kondisi di atas berkontribusi pada ketidak berdayaan masyarakat, dan dalam banyak hal masyarakat di pelosok memiliki akses yang rendah terhadap dukungan anggaran pemerintah untuk upaya upaya mitigasi dan kesiapsiagaan. Dimaklumi bahwa sebagian besar anggaran daerah disedot oleh belanja pegawai. Oleh karena itu, sinergi proses partisipatif dari musrenbang dengan proses teknokratis dan politis menjadi sangat penting. Keterbukaan, inovasi, kerjasama multipihak dan kreatifitas sangat diperlukan karena kita tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan APBD untuk membiayai upaya-upaya pengurangan risiko bencana (PRB).
Praktik Desa Tangguh di Yogyakarta dan Jawa Tengah oleh Untung Tri Winarso
PRAKTIK PENGEMBANGAN DESA TANGGUH DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH OLEH PERKUMPULAN LINGKAR
Oleh: Untung Tri Winarso
(Anggota Perkumpulan Lingkar Yogyakarta)
LATAR BELAKANG
Komunitas sebagai pelaku utama dalam menggali informasi, menganalisis, menyimpulkan, merencanaan, melaksanaan, memantau dan mengevaluasi kegiatan untuk mengurangi kerentanannya sekaligus meningkatkan kemampuannya. Prakarsa atau inisiatif lokal dari masyarakat dipercaya efektif untuk mengurangi risiko bencana, sebab masyarakatlah yang memahami wilayah dan kebutuhannya serta mampu menggunakan kemampuannya bagi perubahan diri dan lingkungannya. Pengembangan Desa Tangguh dilaksanakan untuk mencapai komunitas yang mampu mengelola risiko dengan memaksimalkan sumber daya yang ada di komunitas tersebut. Komunitas yang tangguh diartikan sebagai komunitas yang dapat mengelola tekanan atau kekuatan yang menghancurkan (menyerap, mengurangi, menahan, mengalihkan, menghindar, adaptasi) dengan mempertahankan struktur dan fungsi aset penghidupan untuk memulihkan diri setelah bencana.
Pemulihan Anak Pasca Bencana oleh Wiwik Sulistyaningsih
PEMULIHAN ANAK PASCA BENCANA:
Pelibatan Komunitas untuk Hasil Intervensi yang Efektif
Wiwik Sulistyaningsih
Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
wiwiksulistya@yahoo.co.id
Abstrak
Komunitas anak sebagai kelompok rentan dalam situasi bencana telah mendapatkan perhatian yang cukup di berbagai daerah rawan bencana. Refleksi pengalaman di lapangan menemukan bahwa tanpa adanya pelibatan komunitas di lingkungan anak akan berakibat timbulnya sikap penolakan masyarakat di awal, sikap pasif saat pelaksanaan, hingga enggan mendukung program psikososial yang dilakukan. Hal ini selain menimbulkan inefisiensi juga merugikan mengingat besarnya dana yang biasanya dianggarkan untuk kegiatan tersebut.
Perang Informasi dan Implikasi Kebijakan Pemulihan Bencana Kasus Lapindo oleh Firdaus Cahyadi
Perang Informasi dan Implikasi Kebijakan Pemulihan Bencana Kasus Lapindo
Oleh: Firdaus Cahyadi*
Abstrak
Informasi adalah sesuatu yang penting dalam upaya pemulihan bencana, terlebih bila itu terkait dengan bencana ekologi. Dalam bencana ekologi seringkali terdapat pihak-pihak berkepentingan yang tidak menginginkan munculnya sebuah informasi yang benar dan akurat. Tujuannya beragam. Dari perbaikan citra korporasi hingga upaya pembebasan dari sanksi, baik hukum maupun sosial.
Tulisan ini merupakan hasil dari sebuah riset yang coba menyoroti pertarungan informasi dalam kasus Lapindo. Metodologi yang digunakan dalam riset ini adalah studi literatur dan wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang terkait bidang informasi.
Pemetaan Potensi Bencana Desa Rahtawu Kudus Berbasis GIS oleh Imam Khanafi
PEMETAAN POTENSI BENCANA DI DESA RAHTAWU, KABUPATEN KUDUS BERBASIS GIS (Geographic Information System)
Oleh: Imam Khanafi
ABSTRAK
Rahtawu adalah desa di pegunungan muria yang berada di kabupaten kudus. Desa Rahtawu setiap musim hujan tiba sering terjadi bencana longsor dan banjir bandang. Penulis mencoba menginisiasi dan mengaplikasikan sebuah sisitem teknologi untuk memetakan bencana yang di rahtawu untuk berkontribusi meminimalkan bencana yang merugikan masyarakat.
Tulisan inimencoba mengurai sebuah mitigasi bencana berbasis teknologi yang artinya masyarakat Desa Rahtawu yang sering terjadi bencana harus memanfaatkan GIS (Geographic Information System) untuk selalu berjaga – jaga dan beradaptasi dengan kondisi rawan bencana termasuk kesiapan dan tindakan pengurangan resiko bencananya sebagai alat pembuatan peta resiko bencana.
Pengalaman Perempuan dan Inisiasi Pusat Krisis Berbasis Komunitas untuk PRB oleh Titin Murtakhamah
Pengalaman Perempuan dan Inisiasi Pusat Krisis Berbasis Komunitas untuk Pengurangan Resiko Bencana
oleh: Titin Murtakhamah
Pengantar
Di ujung desa, perempuan bernama Salimah, 64 tahun, sedang menatap puing-puing rumahnya. Tak ada lagi bangunan yang tersisa disini. Rumahnya sudah rata dengan tanah. Pun, rumah usaha penggilingan padi yang dirintis bersama suaminya berpuluh tahun lalu luluh sudah tertimpa gempa berkekuatan 5,9 Richter yang mengguncang Bantul dan sekitarnya pada Mei tahun 2006. Dengan cekatan ia membongkar kembali puing-puing yang memenuhi seluruh bekas rumah dan tempat usahanya, mencoba menemukan sesuatu yang dapat membangkitkan hidupnya kembali. Ah ya, mesin penggilingan itu masih utuh. Matanya berbinar melihat secercah harapan disana.

