You are hereBerita Mitra

Berita Mitra


Women ‘least prepared’ during disasters

Women ‘least prepared’ during disasters
Elly Burhaini Faizal, The Jakarta Post, Jakarta | Thu, 11/24/2011 8:00 AM

Women continue to make up the majority of victims of natural disasters but not enough is being done to empower women to better protect themselves when a crisis strikes.

Women, especially those who live in disaster-prone areas, may suffer disproportionately due to a profound ignorance of women’s needs in disaster preparedness and mitigation, activists say.

KOSLATA: Jambore Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat

Jambore Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat
16 Nopember 2011

Sepuluh Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) yang beranggotakan minimum 10 orang warga berkumpul selama dua hari (15-16 Nopember 2011) di Dusun Buani, Desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Sebanyak 10 desa, lima Sekolah Menengah Umum dan lima Madrasah Alawiyah berpartisipasi dalam Jambore ini. Pementasan Cupak Gurantang (pertunjukan teater rakyat tradisional), lomba pertolongan pertama, evakuasi dan merakit tandu serta seminar sehari.

Yayasan KOSLATA, mitra lokal Oxfam, telah menjalankan program pengurangan risiko bencana (PRB) sejak 2010 di 10 desa, di Kabupaten Lombok Utara, yang didukung oleh Pemerintah Australia melalui Kemitraan Australia-Indonesia.

Newsletter API Perubahan No. 3 Juli-September 2011

NEWSLETTER
API Perubahan
Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana untuk Ketahanan

No.3 Juli-September 2011

Editorial

Sebagai tindak lanjut terpilihnya kelurahan percontohan di Jakarta Barat dan Sumatera Barat, Tim API Perubahan bersama-sama dengan KPP dan unsur terkait di tingkat kelurahan telah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) di Kedoya Utara, Jelambar Baru, Puluik Puluik dan Bungo Pasang.

Tahapan penting lainnya yang telah dilaksanakan adalah penyelenggaraan training workshop tentang Kajian Kerentanan dan Kapasitas / Vulnerability and Capacity Assessment yang difasilitasi oleh ISET dan Mercy Corps, bekerjasama dengan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Kegiatan pelatihan ini merupakan langkah awal dimulainya kajian yang akan dilaksanakan oleh Universitas Indonesia di Jakarta, Universitas Andalas di Sumatera Barat dan konsorsium akademisi-praktisi di Lampung.

Kebahagiaan Terbesar Victoria Oleh: Muhary Wahyu Nurba/Oxfam

Kebahagiaan Terbesar Victoria

Oleh: Muhary Wahyu Nurba/Oxfam

LEWAT perannya sebagai fasilitator Desa Matase, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur Victoria Lawekleau (38) menemukan jati dirinya yang utuh. Seorang perempuan tangguh sekaligus sahabat terbaik bagi bagi kaumnya dan tentu saja pelindung bagi keluarganya.

"Saya tidak tahu mengapa saya dipilih sebagai fasilitator. Tapi saya yakin warga di dusun ini punya alasan tersendiri," kata Victoria tersenyum.

Greatest Happiness of Victoria By: Muhary Wahyu Nurba/Oxfam

Greatest Happiness of Victoria
By: Muhary Wahyu Nurba/Oxfam

Through her role as facilitator for Matase Village, West Malaka Sub-district, Belu District, East Nusa Tenggara Province, Victoria Lawekleau (38) discovered her identity: as a tough woman and the best friend for other women and of course the protector for her family.

"I don’t know why I was pointed as the facilitator. But I'm sure the people in this village have their own reasons," Victoria said, smiling.

Semiloka PRB di Sulawesi Tengah

Semiloka PRB di Sulawesi Tengah

26 Juli 2011
Yayasan Jambata melaksanakan seminar dan lokakarya (semiloka) untuk mendorong perluasan upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Sulawesi Tengah pada 27 Juli di Palu. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama Yayasan Jambata Palu, Oxfam dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Propinsi Sulawesi Tengah atas dukungan Pemerintah Australia melalui Kemitraan Australia Indonesia.

LP2DER Bima Gelar Pelatihan Pengintegrasian PRB ke dalam Kurikulum

LP2DER Bima Gelar Pelatihan Pengintegrasian PRB ke dalam Kurikulum

26 Juli 2011.
Lembaga Pengembangan Partisipasi Demokrasi dan Ekonomi Rakyat (LP2DER) mengadakan pelatihan Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke Dalam Kurikulum selama tiga hari (25-27 Juli) di Hotel Parewa, Kota Bima. Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 30 orang yang terdiri dari guru dan pengawas dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (DIKPORA) dari empat kecamatan dampingan lembaga ini.

Dengar Sirene, Langsung Siaga: Pembelajaran Proses PRB Sekolah di Kab Kepulauan Sangihe, Sulut

Dengar Sirene, Langsung Siaga
Pembelajaran Proses Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Sekolah di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
Oleh: Helda Rapar/Decky Tiwow/Musfarayani, April 2011

Gempa akhir Januari 2007 membuat sebagian dinding gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kedang, dusun jauh Kampung Utaurano Kecamatan Tabukan Utara yang dibangun sejak tahun 2004, roboh. Untungnya tidak ada korban jiwa karena terjadi bukan di saat jam belajar. Pasca gempa, gedung sekolah tidak dapat digunakan lagi untuk proses belajar mengajar.

Kegiatan belajar mengajar pun akhirnya menumpang di gedung gereja Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Ararat Kedang. Sebanyak 23 murid mendapatkan bantuan sosial berupa kursi dan meja dari jemaat gereja. Namun gereja bukanlah gedung sekolah sehingga masih terasa kurang nyaman untuk dijadikan ruang belajar mengajar.

Oxfam Research Report: Dealing with Disasters A Review of Disaster Risk Reduction Investments in West Java and West Sumatra

OXFAM RESEARCH REPORT

Dealing with Disasters A Review of Disaster Risk Reduction Investments in West Java and West Sumatra, Indonesia

Saut Sagala
Regional and Rural Planning Research Group
School of Architecture, Planning and Policy Development,
Institute of Technology Bandung, Indonesia
September 2010

Executive Summary

Disaster Risk Reduction (DRR) Investment covers a ranges of activities that include time, effort and energy spent with the aim of reducing disaster risks. This research assesses the extent to which the previous DRR investment in two provinces in Indonesia (West Java and West Sumatra) have contributed to the reduction of risk and vulnerabilities of communities. The objective of the research is to identify how DRR investments have developed and contributed to reduce the impacts in recent earthquakes in Indonesia. The results of the research will be shared with the government, Non-Government Organization, and education institution working in DRR.

Ibu Rumah Tangga Wamena Rentan Terinfeksi HIV/AIDS

Ibu Rumah Tangga Wamena  Rentan Terinfeksi HIV/AIDS
Oleh: Siprianus Guntur

“Ancaman yang paling besar di Kabupaten Jayawijaya setiap tahun adalah banjir. Setiap tahun kita menyibukkan diri dengan bencana banjir. Akan tetapi tahukah Anda bahwa ancaman terbesar di Kabupaten Jayawijaya saat ini adalah penyakita HIV/AIDS?” demikian diungkapkan Asisten II Kabupaten Jayawijaya, Gad Tabuni, mewakili Bupati pada seminar dan lokakarya tentang: Penanggulang-an Bencana dan Pengurangan risiko Bencana pada tingkat Pemerintahan, 15-17 September 2010, di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Bulus, Penyelamat Warga Sembalun

Bulus, Penyelamat Warga Sembalun
Oleh: Abdul Muiz—Konsepsi

Pukul 03.00 dinihari di bulan April 2006, bunyi kentungan yang dipukul keras dan terus menerus membangunkan warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur. Bagi warga desa, bunyi kentungan seperti itu dikenal sebagai bulus, yaitu pertanda sebuah marabahaya akan datang.

Mereka yang tadinya terbuai dalam kenyamanan tidur, segera bangun, dan siap-siap menyelamatkan diri bersama keluarganya masing-masing. Kendati desa itu tengah mengalami pemadaman listrik, warga saling membantu menuju ke tempat yang aman. Seiring dengan itu, terdengar bunyi bergemuruh dikejauhan dari arah bukit. Tidak lama kemudian banjir bandang  mulai menerjang desa tersebut.

Ekspedisi Media PRB di Ende (2) Tebang Hutan Dijerat Poi

Ekspedisi Media PRB di Ende (2) Tebang Hutan Dijerat Poi
POS KUPANG/KANIS JEHOLA

TERIMA LAPORAN -- Mosalaki Wologeru, Desa Tanali, Raymundus Seko (pakaian adat) menerima laporan dari Kades Tanali, Dominggus Gema Galgani (kanan), dan ketua TSB tentang ancaman banjir di desa mereka pada saat simulasi oleh TSB desa setempat, Kamis (16/12/2010).

Jumat, 14 Januari 2011 | 10:31 WIB
Oleh Kanis Jehola

ALAM yang subur tapi tidak bersahabat bukanlah alasan mengapa wartawan Jakarta dan Kupang datang ke Desa Tanali. Lantas ada apa di Desa Tanali? Pertanyaan retoris itu sebetulnya tidak hanya dilontarkan Om Dheny ketika berada di Desa Tanali. Tapi sudah ada dalam pikiran saya saat briefing di Fird Ende. Saat Om Dheny dari Oxfam memberitahukan bahwa rombongan wartawan akan segera berangkat ke Tanali. Pertanyaan itu mengusik sepanjang perjalanan. Toh jauh-jauh datang dari Jakarta dan Kupang. Diundang khusus datang ke Desa Tanali. Capek deh.

Ekspedisi Media PRB di Ende (1) Tanali, Subur tapi Rentan Bencana

Ekspedisi Media PRB di Ende (1)
Tanali, Subur tapi Rentan Bencana
POS KUPANG/KANIS JEHOLA

KALUNGKAN SELENDANG -- Warga Desa Tanali tidak hanya menghargai mosalaki (tua adat) tapi juga para tamu yang datang. Tampak seorang ibu sedang mengalungkan selendang di leher wartawati The Jakarta Post, Tifa Asrianti, saat tiba di Desa Tanali, Selasa (14/12/2010) lalu.
Kamis, 13 Januari 2011 | 12:42 WIB

Oleh Kanis Jehola

PENGANTAR REDAKSI -- Beberapa tahun terakhir  Indonesia jadi langganan bencana alam. Jumlah korban jiwa, pun harta benda tidak sedikit. Pola penanganan yang dilakukan pemerintah biasanya berupa tanggap darurat. Diikuti rekonstruksi dan relokasi pasca bencana. Sekarang, pola itu dinilai tidak cocok lagi. Hal penting ialah kesiapsiagaan sebelum bencana, baik masyarakat maupun pemerintah, dalam rangka pengurangan risiko bencana sehingga korban bencana bisa diminimalisir. Masyarakat Desa Tanali di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, mempunyai kearifan lokal dalam upaya pengurangan risiko bencana (PRB). Seperti apa? Ikuti laporannya.

Villagers empowered to deal with disasters

Villagers empowered to deal with disasters
Tifa Asrianti, The Jakarta Post, Ende | Tue, 12/28/2010 10:45 AM | National

The sound of the kentongan, the traditional bamboo bell, resonate through the empty streets of Tanali village in Ende, Flores Island. The rhythm escalates, indicating that floodwaters would soon reach the village.

Villagers turn to local wisdom to manage disasters in Ende

Villagers turn to local wisdom to manage disasters in Ende
Tifa Asrianti, The Jakarta Post, Ende | Mon, 12/27/2010 9:12 AM | National

Rosalia Bela, 43, shudders whenever she recalls the great flood of 1979 that swept over her hometown of Tanali village in Wewaria district, Ende, Flores.

At the time, rain poured for almost one week. Awoken by the sound of rushing water, then 12-year-old Rosalia quickly ran to a hill near her village. “I couldn’t save anything from the house. Everything was swept away. Even my little brother fell victim to the disaster,” she said.