You are hereBulus, Penyelamat Warga Sembalun

Bulus, Penyelamat Warga Sembalun


By djuni - Posted on 15 December 2010

Bulus, Penyelamat Warga Sembalun
Oleh: Abdul Muiz—Konsepsi

Pukul 03.00 dinihari di bulan April 2006, bunyi kentungan yang dipukul keras dan terus menerus membangunkan warga Desa Sembalun Bumbung, Lombok Timur. Bagi warga desa, bunyi kentungan seperti itu dikenal sebagai bulus, yaitu pertanda sebuah marabahaya akan datang.

Mereka yang tadinya terbuai dalam kenyamanan tidur, segera bangun, dan siap-siap menyelamatkan diri bersama keluarganya masing-masing. Kendati desa itu tengah mengalami pemadaman listrik, warga saling membantu menuju ke tempat yang aman. Seiring dengan itu, terdengar bunyi bergemuruh dikejauhan dari arah bukit. Tidak lama kemudian banjir bandang  mulai menerjang desa tersebut.

“Seandainya pada saat itu kentungan tak dibunyikan,  mungkin akan lebih banyak jatuh korban jiwa di masyarakat,” kata salah seorang warga Sembalun, yang jadi saksi mata peristiwa itu.

Bencana tersebut telah meluluhlantakan dua kecamatan di Kabupaten Lombok Timur, yaitu Kecamatan Sembalun dan Kecamatan Sambelia. Khusus di Kecamatan Sembalun, Desa Sembalun Bumbung merupakan desa yang terkena dampak paling parah. Saat itu dilaporkan dua orang tewas, dua rumah hanyut, tiga puluh rumah rusak berat, puluhan ternak hanyut dan ratusan hektar sawah pertanian rusak berat. Nilai kerugian material mencapai milyaran rupiah.

Warga di Desa Sembalun Bumbung mengakui, jika saat terjadinya banjir bandang tidak ada kentungan sebagai tanda peringatan bahaya, mungkin akan lebih banyak korban jiwa yang jatuh.

Warisan Suku Sasak

Sembalun Bumbung merupakan salah satu desa dari empat desa yang ada di Kecamatan Sembalun. Desa ini terbilang tua, banyak menyimpan sejarah perkembangan dan peradaban Suku Sasak. Suku Sasak merupakan salah satu etnis terbesar yang ada di Pulau Lombok. 

Desa Sembalun Bumbung berada di bawah kaki Gunung Rinjani, dikelilingi oleh bukit - bukit dengan tanah yang subur. Sebagian besar penduduk di desa ini hidup dari bertani.

Dengan letaknya yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani, yang dikategorikan sebagai salah satu gunungapi aktif, Sembalun Bumbung berhadapan dengan ancaman bencana yang relatif tinggi, yakni gunung meletus. Selain itu, banjir bandang dan tanah longsor juga menjadi ancaman tersendiri bagi penduduk desa yang dikelilingi perbukitan ini.

Beda bunyi beda tanda

Sebagai bentuk kesiap-siagaan masyarakat terhadap ancaman bencana khususnya letusan gunungapi, banjir dan longsor, masyarakat Desa Sembalun Bumbung masih menyimpan sebuah tradisi lokal yaitu membunyikan kentungan sebagai pemberi peringatan bahaya. Tradisi turun-temurun ini diyakini sudah ada sejak zaman pemerintahan Anak Agung, salah satu raja pada jaman pendudukan Kerajaan Bali di Pulau Lombok beberapa ratus tahun yang lalu.

Selain sebagai pemberi tanda peringatan akan datangnya bencana, kentungan juga berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan masyarakat pada kegiatan pertemuan masyarakat.

Perbedaan dalam membunyikan kentungan sebagai tanda peringatan bahaya dengan tanda berkumpul atau menghadiri pertemuan, adalah dari  jenis bunyi pukulan pada kentungan. Bulus adalah pukulan yang dilakukan secara terus-menerus dalam tempo cepat, sebagai pertanda akan datangnya bahaya. Sementara undak telu adalah pukulan tiga kali yang dilakukan secara perlahan-lahan, sebagai pertanda panggilan untuk bertemua dalam rapat bagi masyarakat.

Kentungan besar atau kentungan induk untuk pemberi tanda peringatan bahaya, biasanya dipasang di rumah perbekel atau Kepala Desa Sembalun Bumbung. Yang bertugas memukul kentungan ini disebut lang-lang. Saat ini kentungan besar tersebut masih tersimpan di rumah tetua adat Desa Sembalun Bumbung, dan tetap digunakan sebagai pemberi tanda peringatan akan datangnya ancaman bencana.

Kini warga tetap menjalankan tradisi kentungan ini meski teknologi listrik yang mungkin bisa membunyikan alarm bisa saja dilakukan. Tapi siapa sangka, ketika suatu kali listrik padam, maka kentungan tetap menjadi andalan berharga yang bisa menyelamatkan sebagian besar jiwa masyarakat setempat.(Cerita ini telah diterbitkan pada Newsletter Building Resilience in Eastern Indonesia edisi Desember 2010-2011, Oxfam dan Kemitraan Australia Indonesia).

 

 

 

Bookmark and Share

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
3 + 2 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.