You are hereEkspedisi Media PRB di Ende (1) Tanali, Subur tapi Rentan Bencana

Ekspedisi Media PRB di Ende (1) Tanali, Subur tapi Rentan Bencana


By djuni - Posted on 14 January 2011

Ekspedisi Media PRB di Ende (1)
Tanali, Subur tapi Rentan Bencana
POS KUPANG/KANIS JEHOLA

KALUNGKAN SELENDANG -- Warga Desa Tanali tidak hanya menghargai mosalaki (tua adat) tapi juga para tamu yang datang. Tampak seorang ibu sedang mengalungkan selendang di leher wartawati The Jakarta Post, Tifa Asrianti, saat tiba di Desa Tanali, Selasa (14/12/2010) lalu.
Kamis, 13 Januari 2011 | 12:42 WIB

Oleh Kanis Jehola

PENGANTAR REDAKSI -- Beberapa tahun terakhir  Indonesia jadi langganan bencana alam. Jumlah korban jiwa, pun harta benda tidak sedikit. Pola penanganan yang dilakukan pemerintah biasanya berupa tanggap darurat. Diikuti rekonstruksi dan relokasi pasca bencana. Sekarang, pola itu dinilai tidak cocok lagi. Hal penting ialah kesiapsiagaan sebelum bencana, baik masyarakat maupun pemerintah, dalam rangka pengurangan risiko bencana sehingga korban bencana bisa diminimalisir. Masyarakat Desa Tanali di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, mempunyai kearifan lokal dalam upaya pengurangan risiko bencana (PRB). Seperti apa? Ikuti laporannya.

HARI Selasa, 14 Desember 2010. Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 Wita. Cuaca di Kota Ende saat itu lagi mendung. Ditutupi kabut. Hujan gerimis menyirami Kota Ende dan sekitarnya. Di tengah guyuran hujan gerimis, terlihat dua unit mobil Kijang Inova. Satunya berwarna biru dan satunya berwarna hitam. Kedua mobil itu diparkir di jalan depan kantor Fird Ende. Mesinnya hidup. Selalu siaga.

Di dalam kantor Fird Ende di Jalan Kokos Raya Nomor 70 Perumnas Ende, tengah berlangsung briefing  journalist. Ada 10 orang yang ikut briefing itu. Enam orang wartawan dan empat orang masing-masing staf Oxfam, Fird dan Yastim sebagai tuan rumah. Enam wartawan masing-masing Shandy Prasetyo dan Rusli (Metro TV), Luki Aulia (Kompas), Tifa Asrianti (The Jakarta Post), Nivell Rayda (Jakarta Globe), dan Kanis Jehola (Pos Kupang). Juga ada Musfarayani (Fara),  staf humas Oxfam Jakarta, Dheny Surya Ardhian dari staf Oxfam Jakarta di Ende, serta Rafael Minggu (om El) dari Yastim dan Yohanes Dhai Sili (om Nus) dari Fird Ende.

Briefing yang diberikan om Dheny, om Nus dan om El itu berlangsung sangat singkat. Suasananya sangat santai. Tapi sarat isi. Ketiga om ini tampak sangat siap. Mereka menguasai persoalan lapangan. Penjelasan mereka singkat, tapi runut dan lancar. Bak air mengalir.

Selesai makan siang, kami pun bertolak dari Ende. Dua unit mobil kijang yang dari tadi telah siap meluncur meninggalkan Ende. Saya bersama wartawan Metro TV, Shandy dan Rusli, serta om Dheny, menumpang mobil Kijang Inova warna hitam. Sedangkan rekan wartawati lain menumpang mobil Kijang Inova warna biru tua bersama om El dan om Nus.

Hujan gerimis masih terus mengguyur. Dua unit mobil itu terus melaju dengan kecepatan sedang. Menapaki jalan berkelok di tebing bukit, tapi berhotmix. Sesekali rasa takut muncul saat melewati jurang yang dalam dan bukit yang nan tinggi. Saat melihat batu yang bergelantungan di tebing jalan menunggu runtuh. Batu-batu itu bergantungan di tanah yang labil. Tapi seketika itu juga rasa takut hilang menjadi kagum. Karena di tebing hingga puncak bukit di pinggir jalan itu terlihat beraneka tanaman perkebunan. Ada kemiri, cokelat dan tanaman lainnya. Tanaman-tanaman itu bertumbuh subur. Daunnya rindang. Menjanjikan kemakmuran bagi warga pemiliknya.

Sekitar 40 km melewati jalan hotmix, sampailah di Ibu Kota Kecamatan Detusoko. Ternyata perjalanan belum berhenti di situ. Sampai di persimpangan Kecamatan Detusoko dua unit mobil itu belok ke kiri. "Sudah dekat om, tapi jalannya kurang baik," kata om Dheny menghibur.

Apa yang dikatakan om Dheny benar. Meski tidak semuanya.  Mulai dari tikungan Detusoko, kami melewati jalan berlubang. Menurut warga setempat, itu jalan propinsi. Kondisinya agak sempit dan berkelok-kelok. Olengan pun makin terasa. Ada yang mulai irit bicara. Banyak diam. Pusing dan mabuk.

Perjalanan telah menghabiskan waktu kurang lebih 1.5 jam. Dua unit mobil menepi ke pinggir jalan lalu berhenti. Sampailah kami di desa yang dituju. Desa Tanali, Kecamatan Wewaria. Jaraknya sekitar 56 km dari Kota Ende.

Di pinggir jalan dekat rumah Mosalaki (tua adat) sudah menunggu warga Tanali. Tidak cuma orang dewasa. Juga anak-anak. Ibu-ibu berpakaian tenunan kas Ende tampak anggun. Mereka menyapa dengan ramah. "Ini tamu-tamu kita wartawan dari Jakarta. Yang ini dari Kupang, Kupang Post (maksudnya Pos Kupang, Red)," kata om Dheny dan om El. Satu persatu tamu jauh itu dikalungkan selendang. Kemudian mempersilahkan masuk tenda yang sudah disiapkan.

Di dalam tenda depan rumah sudah menunggu Bapak Raymundus Seko, Mosalaki Wologeru, Desa Tanali. Juga Kades Tanali, Dominggus Gema Galgani. Para mantan Kades Tanali dan beberapa tokoh masyarakat lainnya. Mereka duduk berjejer.

Saat semuanya sudah duduk, Direktur Yastim, AA Minggus mulai angkat bicara. Ia memperkenalkan satu persatu para tokoh yang sudah menunggu di tenda itu. Kemudian meminta para tamu memperkenalkan diri. Musfarayani (Fara), staf humasnya Oxfam Jakarta berdiri memandu para tetamu. Berbicara satu dua kata lalu mempersilahkan para wartawan satu persatu memperkenalkan diri dan asal medianya. Suasana pertemuan terasa akrab. Para wartawan pun mulai menggali informasi. Satu persatu bertanya. Dan informasi tentang Tanali pun dibuka. Satu persatu.

Desa Tanali merupakan salah satu dari 17 desa di Kecamatan Wewaria. Desa Tanali terdiri dari empat dusun, yaitu  Dusun Sokomboka, Tanali, Mundiobo dan Tana Mera. Keadaan ekonomi masyarakatnya rata-rata sederhana. Mata pencaharian penduduk sebagian besar petani. Kondisi alamnya cukup subur.

Meski subur, terkadang kondisi alam di desa ini juga tidak bersahabat. Di desa ini sering terjadi bencana, seperti banjir, tanah longsor, angin ribut, dan bencana lainnya. (bersambung)

http://www.pos-kupang.com/read/artikel/57238/ekspedisi-media-prb-di-ende-1

 

 

 

Bookmark and Share

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
2 + 3 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.