You are hereEkspedisi Media PRB di Ende (2) Tebang Hutan Dijerat Poi
Ekspedisi Media PRB di Ende (2) Tebang Hutan Dijerat Poi
Ekspedisi Media PRB di Ende (2) Tebang Hutan Dijerat Poi
POS KUPANG/KANIS JEHOLA
TERIMA LAPORAN -- Mosalaki Wologeru, Desa Tanali, Raymundus Seko (pakaian adat) menerima laporan dari Kades Tanali, Dominggus Gema Galgani (kanan), dan ketua TSB tentang ancaman banjir di desa mereka pada saat simulasi oleh TSB desa setempat, Kamis (16/12/2010).
Jumat, 14 Januari 2011 | 10:31 WIB
Oleh Kanis Jehola
ALAM yang subur tapi tidak bersahabat bukanlah alasan mengapa wartawan Jakarta dan Kupang datang ke Desa Tanali. Lantas ada apa di Desa Tanali? Pertanyaan retoris itu sebetulnya tidak hanya dilontarkan Om Dheny ketika berada di Desa Tanali. Tapi sudah ada dalam pikiran saya saat briefing di Fird Ende. Saat Om Dheny dari Oxfam memberitahukan bahwa rombongan wartawan akan segera berangkat ke Tanali. Pertanyaan itu mengusik sepanjang perjalanan. Toh jauh-jauh datang dari Jakarta dan Kupang. Diundang khusus datang ke Desa Tanali. Capek deh.
Desa Tanali merupakan salah satu lokasi proyek PRB (OXFAM) sejak tahun 2007. Wilayah ini dipilih Yayasan Tani Membangun (Yastim)– FIRD untuk lebih dalam mengkaji risiko bencana. Tapi pemilihan desa ini tentu bukan tanpa alasan.
Dalam hal bencana alam banjir dan tanah longsor, Desa Tanali mempunyai catatan kelam. Kejadian memilukan itu tak pernah dilupakan oleh masyarakat desa hingga saat ini. Bencana banjir terburuk terjadi tahun 1979. Saat itu semua harta benda milik warga, seperti rumah penduduk, fasilitas umum, ternak serta berbagai tanaman pertanian dan perkebunan hanyut dibawa banjir.
Ancaman banjir di desa ini bersumber dari dua sungai, yaitu sungai Lowodaga dan Lowo Rendo. Juga ada delapan anak sungai. Tapi sumber ancaman yang paling besar adalah Sungai Lowodaga. Kondisi sungai ini dari tahun ke tahun terjadi pelebaran dan pendangkalan sungai. Juga aliran air yang tidak beraturan membentuk delta-delta kecil.
Ancaman banjir disebabkan dibukanya hutan primer menjadi lahan perkebunan. Di hulu sungai dan sekitar bantaran sungai. Juga tingginya intensitas curah hujan. Banjir setiap tahun terjadi antara satu sampai empat kali. Bahkan terkadang sampai tujuh kali. Material yang menjadi perusak utama adalah pasir, tanah dan pohon.
Kecendurangan ancaman banjir dengan tingkat risiko yang ditimbulkan dari tahun ke tahun semakin bertambah. Terutama pada elemen infrastruktur, lingkungan dan anggaran. Pada elemen lingkungan, puluhan ha tanah sawah dan kebun telah terbawa.
Lalu mengapa warga Desa Tanali tidak direlokasi ke tempat yang lebih aman? Jawabannya tentu tidak mudah. Warga Desa Tanali sangat kuat dengan adat dan budayanya. Sangat kuat percaya pada mosalaki (tua adat). "Pernah terjadi. Setelah bencana banjir tahun 1979, pada tahun 1980 ada warga dari sini (Tanali) yang pindah.Tapi setelah mereka pindah, malah terjadi bencana lagi. Ada yang meninggal dan ada yang rumahnya terbakar," kata Raymundus Seko, mosalaki Wologeru, Desa Tanali.
Untuk pindah, kata Raymundus, harus melalui proses kuwu keda. Para mosalaki harus duduk bersama membicarakan soal perpindahan. "Prosesnya melalui seremoni adat bakar bambu. Kalau bambu bakar pecah lurus berarti nenek moyang setuju. Tapi kalau tidak lurus berarti tidak setuju. Dari seremoni adat yang dilakukan, nenek moyang tidak setuju," kata Raymundus.
Namun, kondisi ini tidak membuat warga Desa Tanali menyerah. Masyarakat Desa Tanali punya keunikan. Bencana buruk tahun 1979 membuat masyarakat di desa ini berani melakukan hal yang luar biasa. Walaupun masyarakat sendiri menganggapnya sebagai hal biasa. Sejak saat itu muncul inisiatif. Muncul kearifan lokal dalam upaya pengurangan resiko bencana (PRB) di desanya. Dan karena kearifan lokal itulah Om Dheny Ardhian dari Oxfam menyebut Desa Tanali sebagai laboratorium pembelajaran PRB. Om Dheny juga tentu punya alasan.
Kearifan lokal dalam upaya PRB itu dalam bentuk melaksanakan beberapa rencana aksi masyarakat (RAM). Salah satunya membuat beronjong sepanjang 300 meter menggunakan bahan lokal (bambu) pada tahun 2007. Tapi mulai tahun 2010, beronjong tersebut sudah berubah menjadi permanen berkat bantuan dana PNPM.
Warga desa setempat, khususnya kelompok perempuan kiti kale (bahasa Lio yang artinya orang-orang pilihan), juga sudah membentuk kelompok simpan pinjam. Kelompok ini dipimpin Ibu Maria Seroni.
Warga juga sudah membangun jaringan perpipaan sepanjang 1.500 meter untuk kebutuhan air bersih, dan membangun enam sumur gali. Juga membangun lumbung pangan untuk pemenuhan kebutuhan pangan atau suku cadang pangan pada situasi darurat. Pekerjaan tersebut sebagian besar dilakukan secara swadaya atau dengan bahan lokal.
Mengurangi resiko bencana, di Desa Tanali juga sudah dibentuk Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Tanali. Untuk Desa Tanali dikoordinir Darius Gare. Sedangkan untuk Desa Mautenda Barat dikoordinir Frans Seda.
Tim inilah yang menghidupkan semangat kesiapsiagaan bersama masyarakat. Selain memperjuangkan RAM agar diakomodir oleh pemerintah daerah. Juga menjalin komunikasi intensif antardesa yang berada di hulu dan hilir sungai. Komunikasi yang intensif itu antara lain menghasilkan kesepakatan bersama: meniadakan penebangan hutan di kawasan hulu guna mengurangi resiko banjir. Termasuk tidak menebang pohon di kebun sendiri.
Semua kegiatan yang dilakukan masyarakat didukung tokoh adat, tokoh agama dan pemerintah Desa Tanali. Karena dukungan itu pula maka sanksi bagi pelanggar pun diberikan oleh tiga lembaga ini, yakni pemerintah, tokoh adat dan tokoh agama.
"Kalau ada yang melanggar kesepakatan sesuai peta rawan bencana, seperti menebang pohon, maka yang bersangkutan akan dijerat sanksi berupa denda (poi). Sanksi yang diberikan tergantung jenis pelanggarannya. Berat dan ringannya. Bisa kerbau, bisa babi dipikul delapan orang atau empat orang. Bagi yang tidak bisa membayar poi maka yang bersangkutan akan diusir dari Desa Tanali," kata Raymundus Seko, mosalaki Wologeru, Desa Tanali, yang diakui tokoh masyarakat dan kepala desa setempat.
Jika diuangkan, nilai poi itu mencapai sekitar Rp 2 juta lebih. Ini belum termasuk tuak dan beras. Poi itu sudah diwariskan sejak nenek moyang. Karena itu, meski berat, tapi masyarakat setempat mematuhinya. Kepatuhan itu didukung kuatnya adat dan budaya masyarakat setempat. Juga karena kuatnya kepercayaan terhadap mosalaki. (bersambung)
http://www.pos-kupang.com/read/artikel/57279/regionalntt/floresa/2011/1/...


Post new comment