You are hereEkspedisi Media PRB di Ende (3): Tanam Kemiri Lebih Untung
Ekspedisi Media PRB di Ende (3): Tanam Kemiri Lebih Untung
kanis jehola
Ekspedisi Media PRB di Ende (3)
Tanam Kemiri Lebih Untung
POS KUPANG/KANIS JEHOLA
BUKIT -- Kampung Buungenda, Desa Golulada, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, berada di punggung bukit. Meski demikian, warga setempat tidak takut akan bencana banjir dan tanah longsor, karena kampung itu dikelilingi hutan rakyat hasil reboisasi warga setempat. Gambar diambil, Rabu (15/1/2010).
Sabtu, 15 Januari 2011 | 18:18 WIB
Oleh Kanis Jehola
SEHARI setelah berada di Desa Tanali, kami berkunjung ke Desa Golulada, Kecamatan Detusoko. Jaraknya dari Desa Tanali sekitar belasan kilometer. Tapi waktu tempuh menuju desa ini hampir satu jam. Menggunakan kendaraan roda empat. Kondisi jalan menuju desa ini juga tidak semuanya bagus. Ada sekitar enam kilometer yang rusak berat. Belum beraspal. Sempit dan berkelok-kelok. Di tempat tertentu warga menggunakan semen sebagai pengganti aspal. Dibuat seperti jalan setapak. Diduga sengaja dirancang agar bisa dilewati kendaraan roda empat dan roda dua.
Jalan rusak mulai dari Wolomage -- desa induk Golulada -- sepanjang 4 kilometer sampai di Buungenda. Dua kilometer lainnya dari Buungenda menuju Ndori.
Sama seperti Desa Tanali. Kondisi alam di desa ini juga subur. Berjalan ke desa ini seperti berjalan di tengah hutan belantara. Sejuk. Jarang dikenai sinar matahari. Di kiri dan kanan jalan ditumbuhi pohon-pohon besar. Sebesar pelukan orang dewasa. Pohon-pohon itu bertumbuh subur. Daunnya rindang. Tapi bukan pohon yang tumbuh liar di hutan. Sebagian besar pohon-pohon tersebut ialah tanaman perkebunan. Kemiri yang masih berbunga. Juga tanaman produktif lainnya.
Desa Golulada terdiri dari dua kampung, yakni Buungenda dan Ndori. Luas wilayah desa ini seluruhnya 700 hektar. Jumlah penduduknya 574 jiwa dari 154 KK. Permukiman warga di desa ini berada di ketinggian. Di punggung bukit. Tapi air bersih (minum) melimpah. Jernih. Dialirkan melalui pipa satu dim. Tapi tidak ditutup. Dilepas begitu saja. Terbuang-buang.
Pekerjaan penduduk desa ini rata-rata petani. PNS hanya lima orang. Semuanya guru. Penghasilan dominan petani di desa ini adalah kemiri dan kopi. Diikuti cengkeh, kakao dan pisang. Produksi kemiri setiap tahunnya rata-rata mencapai 100 ton.
Wilayah Desa Golulada memiliki hutan lindung. Luasnya 250 hektar. Sedangkan hutan rakyat 100 hektar. Juga masih ada lahan tegalan (lahan tidur). Ekosistem hutannya masih terpelihara baik. Ada babi hutan, kera, burung-burung dan berbagai hewan hutan lainnya. "Jadi ekosistem hutan di Desa Golulada masih terpelihara baik," kata Kades Golulada, Lukas Lawa kepada Pos Kupang, Rabu (15/12/2010).
Sama seperti Desa Tanali. Ancaman bencana di Desa Golulada juga tanah longsor. Desa ini juga mempunyai catatan buruk dalam hal bencana alam. Dulu, sekitar tahun 1979, sebelum masyarakat menggalakkan penghijauan sering terjadi longsor yang parah. Itu terjadi karena orangtua mereka dulu memang sudah terbiasa dengan ladang berpindah. Sekitar tahun 1978-1979, warga Golulada membuka ladang besar-besaran. Wilayah itu pun gundul.
Namun, peristiwa tahun 1979 itu menyadarkan mereka. Mulai tahun 1980, kebiasaan ladang berpindah itu berhenti. Warga sadar bahwa bencana yang mereka alami akibat ulah manusia. Manusia melanggar norma-norma adat. Tidak bersahabat dengan alam sekitar. Salah satu bentuk ulah manusia itu ialah penebangan hutan dan ladang berpindah.
Kebiasaan menebang hutan saat itu dampaknya luas. Tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di hulu (Golulada). Tapi juga oleh saudara mereka yang ada di hilir. Warga Desa Tanali dan warga Kecamatan Wewaria seluruhnya.
Agar peristiwa di hulu dan hilir itu tidak terulang lagi, mulai tahun 1980 warga Desa Golulada menggalakkan reboisasi. Mereka tidak lagi membuka ladang dan menanam padi dan jagung. Lahan yang sebelumnya menjadi ladang berubah fungsi. Mereka mengembangkan hutan rakyat. Menanam beraneka tanaman keras. Tanaman yang diprioritaskan adalah tanaman perkebunan: kemiri, kopi, kakao dan berbagai tanaman perkebunan lainnya. Juga menanam tanaman kaliandar (sejenis lamtoro) dan bambu. Sedangkan tanaman padi dan jagung terus dikurangi. Kearifan lokal ini terus dilakukan dari tahun ke tahun. Diturunkan kepada anak-anak mereka hingga cucu-cucu mereka.
"Meskipun masyarakat di sini tanam kemiri, cengkeh dan cokelat, tapi mereka tetap makan nasi. Kemiri yang dihasilkan warga dijual. Uangnya digunakan untuk beli beras di saudara mereka di pantura, Wewaria," kata Kades Golulada, Lukas Lawa.
Hasil penjualan kemiri, kopi dan cokelat itu jauh lebih menguntungkan. Satu kg kemiri seharga Rp 20.000. Uang itu bisa beli 3 kg beras. "Uang hasil penjualan kemiri ini tidak hanya untuk beli beras. Dengan uang hasil jual kemiri itu, warga di sini bisa mengongkosi anaknya yang sekolah. Dari sini sudah 28 orang anak yang masih kuliah di perguruan tinggi dan tujuh orang baru tamat SMA," kata Lukas Lawa.
Kearifan lokal yang sudah berlangsung puluhan tahun itu tetap dipertahankan hingga saat ini. Untuk tetap menjaganya, sudah ada kesepakatan hulu dan hilir. Warga setempat -- hulu dan hilir -- tidak boleh menebang pohon. Tidak hanya di hutan lindung. Tapi juga di hutan rakyat atau kebun sendiri.
Kalau pun menebang pohon di kebun sendiri maka harus mendapat izin dari mosalaki. Mosalaki yang akan mempertimbangkannya. Tentu dilihat dari dampaknya. Bisa saja mosalaki tidak mengizinkan, walaupun pohon itu di kebun sendiri. Kalau pun diizinkan, biasanya diikuti dengan kewajiban. Biasanya menanam tanaman pengganti dan memeliharanya sampai besar.
Pohon yang ditebang pun harus untuk kepentingan sendiri. Misalnya untuk membangun rumah tinggal. Bukan untuk dijual.
Jika ketentuan ini dilanggar, maka yang melanggar dikenakan denda (Poi). Sama seperti di Desa Tanali. Poi itu sesuai kesepakatan bersama, hulu dan hilir.
Ketentuan adat ini dikuatkan oleh pemerintah desa setempat melalui peraturan desa (Perdes).
Apa yang dilakukan warga desa ternyata lebih menguntungkan. Kehidupan ekonomi masyarakat meningkat dibandingkan ketika masih membuka ladang dan menanam padi dan jagung.
Menurut Lukas Lawa, kehidupan ekonomi masyarakatnya setelah meninggalkan ladang jauh lebih baik dibandingkan ketika masih menggarap ladang. Produksinya pun jauh lebih baik. "Setiap hari petani di sini hanya pergi kumpul kemiri, memetik cengkeh, kakao dan pisang," katanya. (bersambung)
Sumber: TibunNews


Post new comment