You are hereGempa Masih Mengancam
Gempa Masih Mengancam
Gempa Masih Mengancam
09:30 | Friday, 9 April 2010
Gempa Masih Mengancam, HINDARI DAMPAK GEMPA: Sejumlah pasien dirawat di luar rumah sakit di Sinabang ketika serangkaian gempa mengguncang Pulau Simeulue, Rabu (7/8) lalu. // AFP PHOTOHINDARI DAMPAK GEMPA: Sejumlah pasien dirawat di luar rumah sakit di Sinabang ketika serangkaian gempa mengguncang Pulau Simeulue, Rabu (7/8) lalu. // AFP PHOTO
Listrik Sumut Pulih Dua Hari Lagi
MEDAN- Gempa di Sinabang dan rangkaian gempa susulannya, kemarin (7/4) membuat banyak pihak was-was terhadap kemungkinan datangnya gempa yang lebih besar.
Menjawab hal itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dr Ir Sri Woro Budiarti Budiati Harijono MSc menegaskan, gempa seperti di Sinabang tidak bisa diprediksi.
“Gempa bisa terjadi kapan saja dengan kekuatan seberapa pun juga. Hanya saja, sampai sekarang di negara maju sekalipun belum ada alat yang mampu mendeteksi kapan akan terjadinya gempa,” ujarnya.
Mengenai kemungkinan terjadi lagi gempa yang sama di Pulau Sumatera, atau Sumatera Utara khususnya tidak memberi jawaban tegas. Kepala BMKG Pusat tersebut menjawab, terjadinya gempa biasanya diantara satu lempengan dengan batas lempengan lain.
“Antara satu lempengan dengan lempengan lain biasanya yang sering terjadi pergeseran Saat pergeseran tersebutlahn gempa itu terjadi. Untuk Pulau Sumatera yang berada
di atas lempeng Euro Asia, berbatas dengan lempeng Filipina dan lempeng Australia kemungkinan kearah itu bisa-bisa saja terjadi,” terangnya.
Kepala Bagian Data dan Informasi BMKG Wilayah 1 Sumut, Hendra Suwarta membenarkanhal tersebut. Dikatakannya, gempa belum bisa terdeteksi dengan alat secanggih apapun. Yang menjadi rujukan adalah letak lempengan serta patahan-patahan yang ada.
Untuk Sumatera yang berada di Lempengan Euro Asia, yang berbatas dengan Lempeng Filipina dan Australia memiliki potensi yang sama untuk terjadi.
Sementara itu, peluang terjadinya gempa untuk di Medan menurut Hendra lagi, potensi nya sangat kecil. Seandainya pun terjadi hanya dalam skala kecil.
“Khusus untuk Medan tetap saja ada kemungkinannya, tapi untuk kekuatan relatif tidak begitu besar. Hal tersebut dikarenakan jika terjadi gempa, pusat gempanya diperkirakan tingkat kedalamannya sangat tinggi,” tegasnya.
Indonesia Rawan Bencana
Ahli Gempa dan Seismologis ITB Bandung, Wahyu Triyoso PhD, mengungkapkan sistem mitigasi bencana yang terintegrasi merupakan kebutuhan mendesak bagi negara yang rawan gempa. Data menunjukkan, sejak Januari 2010, telah terjadi lebih dari 100 kali gempa berkekuatan di atas 5 SR di Indonesia. Dan sejak tahun 2004, tercatat lebih dari 800 kali gempa berkekuatan di atas 5 SR.
“Keberadaan sistem mitigasi bencana akan membuat pemerintah dan masyarakat memiliki adaptasi dan antisipasi yang lebih baik terhadap perilaku alam khususnya gempa,” kata Wahyu, Kamis (8/4).
Pengajar jurusan Teknik Geofisika ITB itu berpendapat ada beberapa hal mendasar dalam mitigasi bencana. Salah satunya pelestarian pengetahuan lokal (local knowledge) dari masyarakat yang dikombinasikan dengan aplikasi pengetahuan terbaru (updating knowledge) dalam hal bagaimana mengantisipasi potensi bencana.
“Masyarakat Pulau Simuelue di Aceh, misalnya, punya kebiasaan berlari ke perbukitan apabila terjadinya gempa dibarengi surutnya air laut, untuk menghindarkan diri dari terjangan tsunami. Kearifan lokal semacam itu perlu ditunjang dengan pengetahuan yang bersumber dari riset modern mengenai gempa dan tsunami, agar masyarakat dapat mengantisipasinya lebih baik lagi,” ujar Wahyu.
Terkait dengan pembaruan pengetahuan tersebut, lanjut Wahyu, pemerintah harus memastikan adanya studi atau riset yang berkelanjutan mengenai bencana. Menurut Wahyu, beberapa topik riset tentang gempa mendesak untuk dilakukan dalam waktu dekat. Topik-topik riset itu antara lain, riset tentang sesar aktif dan geologi kwarter, riset kegempaan untuk identifikasi probable sumber gempa besar dan aspeknya, seperti deformasi, vibrasi dan atenuasi. Selain itu, juga riset paleo eartquake dan kaitannya dengan tsunami.
“Riset-riset bencana itu harus menjadi agenda jangka panjang. Selain untuk menginventarisasi potensi bencana gempa, hasil riset juga dapat menjadi bahan untuk menyusun platform rencana pembangunan daerah-daerah yang berada di zona patahan aktif. Karena itu, DPR harus mulai memikirkan UU Mitigasi Bencana dan mengalokasikan anggaran lebih besar bagi program mitigasi gempa,” tandasnya.
Hal senada sebelumnya juga disampaikan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief. Menurutnya, pengalaman di negara rawan gempa, seperti Jepang, menunjukkan bahwa mitigasi bencana dapat mengeliminasi dampak-dampak mengerikan dari gempa, seperti jatuhnya korban jiwa.
“Idealnya, Indonesia memiliki Undang-Undang Mitigasi Bencana. Sebelum itu terwujud, kita perlu membuat sebuah pedoman mitigasi bencana secara nasional,” ungkap Andi.
Listrik Pulih
Dua hari mendatang kondisi kelistrikan di Sumut pasca Gempa berkekuatan 7,2 SR akan kembali membaik. Hal ini berkaitan telah selesainya empat mesin pembangkit listrik yang berada di Sicanang-Belawan. Hanya saja sekarang ini PLTG Lot III belum berfungsi maksimal.
Seperti diketahui, usai gempa, pasokan listrik di Sumut masih kurang 50 mega watt dari kebutuhan normal. Hal itu terjadi setelah 10 pembangkit di Belawan yang rusak pascagempa masih dalam perbaikan. Sementara pasokan dari pembangkit Labuhan Angin belum bisa dipaksa beroperasi optimal, hanya dibebani 40 sampai 50 MW. “Kami belum bisa paksakan mesin di Labuhan Angin, karena mesinnya masih ’balita’,” kata Humas Pembangkit Listrik (Pikitring) PT PLN Sumbagut, Marajohan Batubara pada (8/4).
Menurutnya, bencana alam gempa yang terjadi pada (7/4) membuat sejumlah mesin ini goyang dari dudukkannya. Akibatnya, mesih mati dengan sendirinya, sementara kotoran minyaknya bisa naik dan mempangaruhi mesin. Hal ini membuat kondisi mesin harus dimatikan setiap tiga jam sekali. Sehingga energy listrik terus berkurang.
“Kami optimis dua hari mendatang mesin pembangkit listrik sudah kembali normal,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Humas PLN Wilayah Sumut, Raidir Sigalingging menyatakan PLTG Lot 3 masih goyang, sehingga belum bisa dipaksakan untuk pemakaian mesin pembangkitnya. Namun, pihaknya masih terus berupaya segera mungkin untuk perbaikan mesin pembangkit listrik ini. “Sedangkan di wilayah lainnya, seperti Lau Renun dan lainnya tidak ada kendala,” tegasnya.
Rp500 juta untuk Gempa Aceh
Pemerintah mulai mengucurkan anggaran untuk membantu para korban gempa di Aceh. Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), Agung Laksono, mengatakan pemerintah akan mencairkan bantuan korban gempa sebesar Rp500 juta. Bantuan itu akan segera dialokasikan kepada pemerintah daerah dan lembaga pemerintah yang sedang bekerja memulihkan kondisi pascagempa.
“Pemerintah memberikan bantuan untuk membantu Pemerintah Provinsi Aceh menangani korban gempa sebesar Rp500 juta,” terang Agung, kemarin (8/4).
Mantan Ketua DPR RI itu mengatakan, bantuan finansial itu untuk dibagi kepada beberapa kabupaten yang terkena dampak gempa guna operasional tanggap darurat. Ia juga menjelaskan, masa tanggap darurat akan diberlakukan selama satu minggu untuk konsolidasi pemulihan kondisi pascagempa.
“Berdasar laporan yang saya terima hingga saat ini pemerintah daerah baik tingkat satu maupun tingkat dua dapat mengatasi penanganan darurat, meski demikian pemerintah pusat tetap memberikan bantuan,” katanya.
Agung menambahkan, tim kaji cepat yang dipimpin Direktur Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah terlebih dahulu berangkat ke lokasi bencana gempa. “Saat ini tim kaji cepat sudah berada di lokasi gempa dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk meneruskan hasil laporan ke pemerintah pusat,” katanya.
Seperti diberitakan, Aceh kembali diguncang gempa, Rabu (7/4) pagi. Menurut BMKG, kekuatan gempa yang berpusat di sekitar 75 km tenggara Sinabang, dengan kedalaman 34 km, dengan kekuatan 7,2 Skala Richter.
Korban gempa di Kabupaten Simeulue, Aceh, terus bertambah. Berdasarkan laporan terbaru Pusat Pengendalian Krisis (PPK) Kementerian Kesehatan, korban luka ringan sebanyak 21 orang, korban yang mengalami fraktur tiga orang, dan korban luka berat enam orang. Tidak terjadi pengungsian dan tidak ada korban meninggal dunia.
Sarana kesehatan yang mengalami rusak ringan, yaitu 6 unit puskesmas serta 1 unit puskesmas rusak berat. Sementara, 15 unit pustu (puskesmas pembantu) mengalami rusak sedang. Perawatan korban luka-luka dilakukan di pelataran parkir rumah sakit.
Permasalahan kesehatan sampai saat ini masih dapat ditangani Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Simeulue. Kementerian Kesehatan menyediakan bufferstock obat dan MP-ASI di Dinkes Provinsi NAD untuk mengantisipasi korban gempa. (net/bbs/zul/jpnn/mag-13/ril)
http://www.hariansumutpos.com/2010/04/gempa-masih-mengancam-2.html


Post new comment