You are hereGender dalam Penanggulangan Bencana

Gender dalam Penanggulangan Bencana


By djuni - Posted on 23 March 2010

Gender dalam Penanggulangan Bencana
oleh Retno Winahyu

“Apa yang akan anda lakukan bila anda ditimpa bencana longsor?” Ada bermacam-macam jawaban, seperti menyelamatkan diri sendri; menyelamat anak, istri, diri sendiri dan ijazah; menyelamatkan keluarga.

Dari hasil pengalaman gempa 27 Mei 2007 yang lalu, korban lebih banyak menimpa para perempuan. Hal ini disebabkan karena pada saat bahaya perempuan mencari anaknya untuk diselamatkan atau pada saat gempa sedang memasak untuk makan pagi padahal kontruksi di dapur sangat lemah sehingga ambruk.

Apa itu Gender?

  • Beberapa anggapan: issue perempuan, proyek untuk perempuan
  • Kadang ada konotasi negatif: donor agenda, konsep barat, tambahan pekerjaan, tidak berguna dan mengada-ada, tidak sesuai dengan budaya/agama
  • Pemahaman yang tidak lengkap tentang konsep dan terminologi
  • Secara teori dan konsep menerima, tapi tidak bisa melakukan – umumnya karena tidak adanya lingkungan (sos-ek dan politik) yang memadai untuk pelaksanaannya.

Jadi Gender adalah…

  • Bukan soal perempuan tapi relasi lak-laki dan perempuan
  • Memahamai bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kebutuhan yang berbeda
  • Relasi gender berkaitan dengan peluang, kegiatan dan kelembagaan sosial, ekonomi, politik 
  • Hubungan kekuasaan
  • Gender bukan/berbeda dengan Sex

Dalam banyak kasus keadaan darurat bencana (gempa, banjir, longsor dll), antara laki-laki dan perempuan menyikapinya dengan cara yang berbeda. Hal ini disebabkan kebutuhan yang berbeda, cara tanggap yang berbeda dll. Tapi ada penyikapan yang bias dalam menyikapi keadaan laki-laki dan perempuan dalam kondisi tanggap darurat, sehingga bantuan yang diberikan pun cenderung bias dan terkondisi. Contohnya adalah kalau perempuan mendapatkan bantuan alat masak memasak, mesin jahit, membuat kue; sedangkan laki-laki mendapat bantuan alat-alat pertukangan, alat las, perahu. Oleh karena itu sangat penting artinya dalam melakukan pendataan memilah antara korban laki-laki dan korban perempuan.

Perhatian khusus kepada kaum perempuan agar mereka dapat mendapat kesempatan, mengambil keputusan, dapat terlibat aktif. Hal ini bukan karena ingin memanjakan perempuan, tapi karena pemberian akses/kesempatan yang adil. Bila perempuan diberi kesempatan, maka perempuan dapat menjadi salah satu agen yang penting untuk tanggap darurat.

Dari segi ancaman alam, mana yang paling rentan antara laki-laki dan perempuan? Jawabnya adalah perempuan yang paling rentan.
Pada saat pemberian jatah hidup (jadup) di Gunungkidul didasarkan jumlah KK (laki-laki atau perempuan dihitung sama).

Bila kita membicarakan gender selalu diidentikkan dengan perempuan, tapi yang penting adalah relasi antara perempuan dan laki-laki. Relasi gender dalam menyikapi dalam kondisi penanggulangan bencana, perlu sebuah analisis yang mendalam untuk melihat relasi gender.

Mendorong kesetaraan Gender:

  • Memperbaiki kesetaraan partisipasi laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan dalam membangun pembangunan yang berkelanjutan
  • Mengurangi ketidaksetaraan relasi gender dalam akses dan kontrol sumber daya
  • Memperbaiki relasi gender untuk keseteraan dalam mendapat manfaat pembangunan  
  • Menambahkan kata “… dan perempuan” tidak cukup. Pendekatan semacam ini tidak merubah situasi, karena tidak menyelesaikan persoalan relasi gender. Focus ditujukan pada issue gender yang ada, bukan sekedar partisipasi dalam kegiatan.
  • Perubahan yang nyata hanya akan terjadi melalui perdebatan aktif dan konstruktif dari laki-laki untuk mencapai keseteraan gender.
  • Namun ..seringkali lingkungan yg menunjang hal ini seringkali sulit diwujudkan.

Sumber:
Djuni Pristiyanto, Notulensi Workshop RAD PRB Kabupaten Gunungkidul, 1 Februari 2008, Hotel Puri Inn, Kaliurang, Yogyakarta
 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
5 + 12 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.