You are hereGubernur Sulawesi Selatan: Kita Semua Bertanggung Jawab terhadap Upaya Penanggulangan Bencana
Gubernur Sulawesi Selatan: Kita Semua Bertanggung Jawab terhadap Upaya Penanggulangan Bencana
![]()


MPBI News, Makasar, 6 Oktober 2009
Gubernur Sulawesi Selatan, Bp. Syahrul Yasin Limpo, membuka secara resmi Konferensi Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) V pada tanggal 5 Oktober 2009 di Hotel Sahid Jaya, Makassar. Konferensi PRBBK V ini merupakan kelanjutan dari Simposium (Community Based Disaster Risk Reduction) CBDRM sejak tahun 2005. Konferensi PRBBK menjadi ajang bertemu dan berbagi para pegiat dan pelaku penanggulangan bencana berbasis komunitas dan kelompok-kelompok masyarakat yang memang bersentuhan langsung dengan ancaman bencana. Kegiatan Konferensi PRBBK V itu dihadiri oleh 163 orang dari berbagai penjuru wilayah Indonesia. Konferensi PRBBK V akan berlangsung dari tanggal 5 s/d 8 Oktober 2009.
Dalam kata sambutannya Gubernur Sulawesi Selatan, Bp. Syahrul Yasin Limpo mengatakan, “Konferensi ini menjadi langkah strategis, apalagi saat ini seluruh bangsa Indonesia berduka, prihatin. Ini juga yang membuat kita ada di tempat ini. Oleh karena itu, konferensi ini tidak boleh kalah gaungnya dengan tangisan dari korban bencana. Siapa lagi yang akan memperbaiki bangsa ini. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan institusi, kita semua bertanggung jawab.” Bp. Syahrul Yasin Limpo menekankan bahwa kita hidup bersamaan dengan bencana di mana saja. Tidak bisa diprediksikan bencana itu akan hadir. Bencana yang pasti datang itu, entah kapan dan dimana meledaknya. Tidak ada alat dan kekuatan untuk mencegah terjadinya bencana. Apa yang harus dilakukan? Mudah-mudahan bukan kita. Tapi kita harus menghadirkan hati kita, pikiran kita. “Saya berharap inilah saatnya, forum pengurangan risiko bencana itu. Inilah saatnya anggota DPR RI yang baru bisa mendengar.”
Bp. Syahrul Yasin Limpo mengakui, “Saya baru mendengar institusi penanggulangan risiko bencana berbasis komunitas ini, oleh karena itu memang ini masih membutuhkan dinamika sendiri. Sebagai gubernur saya ikut teriak dalam kabinet. Kenapa pengenalan terhadap bencana itu menjadi penting. Tapi bagaimana pengalaman itu menjadi hal yang sangat fundamental. Kalau sudah terjadi tsunami apa yang harus terjadi. Persiapan inilah yang harus dijawab.” Gubernur Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa bencana tidak usah ditakuti, barangkali juga bencana mestinya tidak membunuh, kalau sosialisasi terhadap penanggulangan bencan bisa diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu konferensi ini bisa kita pahami. Ini yang harus didorong.
Sebagai seorang pejabat tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan, Bp. Syahrul Yasin Limpo mempunyai kiat-kiat tersendiri dalam upaya-upaya penanggulangan bencana. Dengan bersemangat Bp. Syahrul Yasin Limpo membagikan kiat-kiatnya itu, “Saya memiliki tiga pendekatan: (1) Mindset (pola pikir) pengetahuan itu menjadi penting. Seperti apakah suasana itu bisa kita dorongkan. Kalau anak kecil tidak tahu, kalau bencana angin seperti apa dia bergerak, api seperti apa dll. Mindset-nya mereka sudah dipahamkan. (2) Manajemen (penanggulangan bencana) seperti apa? Kalau itu di rumah masih tingkat satgas, kalau tingkat (korban tewas) 30 orang siapa, kalau di atas tiga puluh orang apa. Kemudian alternatif apa yang bisa menjadi kekuatan agar komunikasi tetap jalan. Karena komunikasi sangat penting. (3) Perilaku, pemerintah, tokoh, komunitas. Bapak hadirin sekalian, saya berharap ini semua bisa muncul dalam konferensi ini, saya akan mendorong konferensi sampai pada presiden.”
Dalam menjalankan kiat-kiat tersebut ada tiga agenda yang dijalankan oleh Bp. Syahrul Yasin Limpo, yaitu agenda darurat, agenda temporer dan agenda pembangunan. (1) Agenda darurat. (2) Agenda temporer. Sebentar malam saya rapat untuk Sumbar. Sekarang adalah agenda temporer, bagaimana kita mengembalikan masyarakat korban, bagaimana mereka bisa bertahan. (3) Agenda pembangunan. Waktu di Aceh saya perbaiki dua rumah sakit di sana dll. Yang seperti ini seharusnya bisa jalan. (4) Secara institusi, kelembagaan, setidaknya teman-teman dari MPBI secara terstruktur harus kita lembagakan. Mumpung ada kondisi seperti ini kita agak greget. Caranya, bahasanya, pendekatannya, agar masyarakat bisa menggunakan. Dalam bahasa penanggulangan bencana, agenda temporer mirip dengan pengurangan risiko bencana, agenda darurat adalah masa tanggap darurat, dan agenda pembangunan adalah masa rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pada saat acara pembukaan Konferensi PRBB V ini, Gubernur Sulawesi Selatan, Bp. Syahrul Yasin Limpo didampingi oleh Bp. Faisal Djalal, Sekretaris jenderal Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), DR. Eko Teguh Paripurno, Ketua SC Konferensi PRBBK V yang juga Kepala Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan Ir. Sugeng Triutomo, DESS., Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Setelah acara pembukaan Konferensi PRBBK V diakhiri dengan suguhan seni tari khas dari budaya Sulawesi Selatan. ---(dp)---


Post new comment