You are hereIbu Rumah Tangga Wamena Rentan Terinfeksi HIV/AIDS

Ibu Rumah Tangga Wamena Rentan Terinfeksi HIV/AIDS


By djuni - Posted on 30 December 2010

Ibu Rumah Tangga Wamena  Rentan Terinfeksi HIV/AIDS
Oleh: Siprianus Guntur

“Ancaman yang paling besar di Kabupaten Jayawijaya setiap tahun adalah banjir. Setiap tahun kita menyibukkan diri dengan bencana banjir. Akan tetapi tahukah Anda bahwa ancaman terbesar di Kabupaten Jayawijaya saat ini adalah penyakita HIV/AIDS?” demikian diungkapkan Asisten II Kabupaten Jayawijaya, Gad Tabuni, mewakili Bupati pada seminar dan lokakarya tentang: Penanggulang-an Bencana dan Pengurangan risiko Bencana pada tingkat Pemerintahan, 15-17 September 2010, di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Informasi bupati mengacu pada  temuan dari RSUD Kabupaten Jayawijaya. Disebutkan, saat ini kasus HIV/AIDS Kabupaten Jaya Wijaya,  per-31 Juli 2010 berjumlah 905 (Laki-laki : 540 jiwa, Perempuan : 346 jiwa dan anak-anak < dari 14 tahun : 19 jiwa).

Dalam perhitungan kasus HIV/AIDS jumlah ini lazimnya dikalikan dengan angka 5. Apa artinya? Setiap 1 kasus yang ditemukan, terdapat 5 kasus lain yang belum terungkap. Dengan proyeksi demikian maka secara nyata jumlah kasus HIV/AIDS di Jayawijaya per 31 Juli 2010  mencapai  4.525 kasus dengan perincian : Laki-laki : 5 x 540 = 2.700 jiwa, Perempuan : 5 x 346 = 1.730 jiwa dan anak - anak < dari 14 tahun : 5 x 19 = 95 jiwa.

Jika ditelusuri lebih lanjut, maka dengan mereferensi pada jumlah penduduk kabupaten Jayawijaya saat ini (212.363 jiwa, laki-laki 114.593 jiwa, perempuan 97,769 jiwa—sumber BPS Kbp. Jaya wijaya per Juli 2010), maka dapat dianalisis sebagai berikut : Laki-laki :  2.700 dibagi dengan 114.593 = 0,24 jiwa atau 24% terinfeksi HIV /AIDS. Perempuan : 97.769 jiwa = 0,46 jiwa atau 46% terkena HIV /AIDS.

Dari data ini dapat disimpulkan, bahwa setiap 100 orang laki-laki penduduk Jayawijaya terdapat 24 di antaranya terinfeksi HIV/AIDS, atau  setiap 10 penduduk laki-laki  terdapat 2 di antaranya terindikasi mengidap HIV/AIDS atau dapat dikatakan, setiap 5 orang penduduk laki-laki  terdapat 1 di antaranya terindikasi mengidap penyakit  HIV/AIDS.

Demikian juga setiap 100 penduduk perempuan Jayawijaya terdapat 46 di antaranya mengidap HIV/AIDS atau setiap 10 penduduk perempuan  terdapat 4,6 di antaranya terinfeksi HIV/AIDS atau dapat juga dikatakan setiap 5 penduduk perempuan Jayawijaya terdapat 2 atau 3 orang di antaranya terindikasi mengidap HIV/AIDS.
Dari data jelas terindikasi bahwa kelompok yang sangat rentan adalah perempuan. Bayangkan saja dari rata-rata 5 penduduk perempuan Jayawijaya 2 atau 3 di antaranya terindikasi mengidap penyakit HIV/AIDS (baik yang sudah kelihatan maupun berpotensi mengidap HIV/AIDS).

Ibu Rumah Tangga Rentan  HIV/AIDS

Dalam kasus ini, dibandingkan laki-laki maka  perempuan menjadi ”makanan empuk” terjangkit infeksi ini. Bayangkan saja, dari 5 perempuan Jayawijaya seperti yang telah disebut pada data di atas,  maka 2 atau 3 perempuan sudah terinfeksi penyakit HIV/AIDS.

Ironisnya, penderita perempuan yang paling banyak terinfeksi HIV/AIDS  adalah ibu rumah tangga. Mereka tertular dari  suaminya yang ternyata terbiasa melakukan hubungan  seks berisiko selain dengan pasangannya sendiri (istri). 

”Parahnya lagi, laki-laki yang terinfeksi ini tidak mau membuka diri kepada keluarganya apalagi memeriksakan dirinya.  Karena kalau berterus terang mereka takut akan ditinggalkan istrinya,” jelas Dollyhe Wetipo aktivis Yayasan Tangan Peduli (TALI) yang peduli  masalah HIV/AIDS.

Ini berbeda dengan daerah lain, dimana kelompok yang berisiko tinggi terkena HIV/AIDS adalah pekerja seks, wanita pria (waria), pengguna narkotika dengan jarum suntik bersama-sama. ”Perempuan di Papua masih dianggap kelas dua, sehingga mereka tidak berdaya menolak atau memilih,”jelas Yunas Yeblo, Aktivis Kelompok Kerja Wanita (KKW) yang dikutip Majalah Tempo Online pada 20 Agustus 2007.

Selain itu Majalah Tempo juga menyebutkan bahwa dari sisi penyebab di Papua juga unik. Penyebab terbesar penularan HIV/AIDS adalah melalui hubungan seks yang tidak aman. Salah satunya adalah akibat banyaknya hubungan seks berganti-ganti pasangan, yang dilakukan setelah pesta adat, atau satu orang melayani beberapa orang, atau berhubungan seks di usia muda, serta rendahnya pemakain kondom.

Risiko ini semakin tinggi bagi perempuan di Jaya Wijaya dan Papua pada umumnya, ketika budaya patriakal di pedalaman tanah Papua masih terjadi, sehingga menempatkan perempuan pada posisi paling rentan untuk sisi manapun. Di beberapa suku, perempuan yang telah ”dibeli” dengan 20 wam (babi) misalnya, sudah menjadi milik laki-laki. Oleh karena sudah ”dibeli” dengan harga demikian maka laki-laki di pedalaman Papua khususnya dan mungkin juga di tempat lainnya akan selalu menempatkan perempuan sebagai warga  masyarakat kelas dua, dan harus rela diperlakukan apa pun oleh laki-laki.

Ketika para mama (perempuan dewasa) teridap dan menjadi penderita HIV/AIDS, dan mengalami kehamilan atau tengah masa menyusui, maka kemungkinan  besar anak-anaknya pun akan terinfeksi. Jadi, kini penyakit ini tidak hanya menyerang kelompok rentan para mama Papua, tetapi juga kelompok anak-anak. Generasi yang akan hilang kini membayangi Papua jika tidak ada upaya pencegahan terhadap masalah yang sangat serius ini secara signifikan. ((Cerita ini telah diterbitkan pada Newsletter Building Resilience in Eastern Indonesia edisi Desember 2010-2011, Oxfam dan Kemitraan Australia Indonesia).

 

 

 

Bookmark and Share

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
4 + 1 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.