You are herePeneliti Indonesia Raih Sasaka Award tentang Bencana

Peneliti Indonesia Raih Sasaka Award tentang Bencana


By djuni - Posted on 18 June 2009

KESRA-- 18 JUNI:   Peneliti dari Indonesia, Dr Eko Teguh Paripurno meraih Sasaka Award, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada mereka yang telah berkontribusi pada upaya mengurangi risiko bencana.

 Sasakawa Award merupakan penghargaan dari Yayasan Nippon Jepang, diberikan bagi mereka yang telah berkomitmen untuk mengurangi risiko bencana.

Eko Teguh Paripurno, staf pengajar sekaligus peneliti di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta itu memperoleh penghargaan ini atas upayanya memperkenalkan teknologi tepat guna bagi masyarakat lokal di sekitar Gunung Merapi.

Saat ini, Eko Teguh Paripurno adalah Direktur Pusat Penelitian untuk Manajemen Bencana UPN di Yogyakarta, dan konsultan pemerintah baik lokal maupun nasional serta terlibat aktif dalam beberapa organisasi LSM.

Anggota delegasi Indonesia dalam konferensi antarbangsa untuk Global Platform tentang Pengurangan Risiko Bencana di Jenewa, Swiss, menjelaskan, Eko Teguh Paripurno, berhak atas uang sebesar 50.000 dolar AS.

Apa komentar Eko atas keberhasilan itu? Saat memberikan penjelasan di pertemuan Global Platform yang diselenggarakan di Jenewa itu, ujarnya.

 "Penghargaan ini akan saya gunakan untuk membangun kapasitas masyarakat di sekitar gunung Merapi, bagaimana agar mereka mengenal dengan baik tentang gunung Merapi. Ini adalah langkah awal upaya untuk mengurangi risiko bencana.

Wakil Tetap Republik Indonesia (Watapri) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), WTO dan Organisasi Internasional lainnya, Dian Triansyah Djani mengemukakan, sudah saatnya Indonesia mengirimkan ahli-ahlinya keluar wilayah-wilayah bencana lainnya.

"Karena memang orang Indonesia lah yang memiliki pengalaman begitu hebat dalam menangani bencana tsunami yang terjadi tahun 2006," katanya pada pidato jamuan makan malam di Kantor PTRI (Perutusan Tetap Republik Indonesia) Jenewa, Swiss, Selasa (16/6) malam.

Pernyataan itu disampaikan di depan sekitar 35 orang delegasi RI konferensi antarbangsa untuk Global Platform tentang Pengurangan Risiko Bencana di Jenewa, 20 orang staf PTRI, termasuk Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dr Syamsul Maarif.

Ia mengemukakan, pascatsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias, banyak permintaan melalui PTRI di Jenewa untuk tenaga ahli.

"Ketika terjadi bencana di Myanmar, saya sendiri terlibat langsung untuk menangani bencana yang terjadi 2008. Kami berharap delegasi RI saat ini dapat menyuarakan pengalaman tersebut dengan baik, karena memang kita saat ini telah memiliki keahlian dalam mengelola bencana," katanya.

Kepala BNBP Syamsul Maarif dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa Indonesia bukan lagi 'supermarket' bencana, tetapi kini sudah menjadi laboratorium bencana. (ro/hr)

http://www.menkokesra.go.id/content/view/11597/1/

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
6 + 2 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.