You are herePengalaman Perempuan dan Inisiasi Pusat Krisis Berbasis Komunitas untuk PRB oleh Titin Murtakhamah
Pengalaman Perempuan dan Inisiasi Pusat Krisis Berbasis Komunitas untuk PRB oleh Titin Murtakhamah
Pengalaman Perempuan dan Inisiasi Pusat Krisis Berbasis Komunitas untuk Pengurangan Resiko Bencana
oleh: Titin Murtakhamah
Pengantar
Di ujung desa, perempuan bernama Salimah, 64 tahun, sedang menatap puing-puing rumahnya. Tak ada lagi bangunan yang tersisa disini. Rumahnya sudah rata dengan tanah. Pun, rumah usaha penggilingan padi yang dirintis bersama suaminya berpuluh tahun lalu luluh sudah tertimpa gempa berkekuatan 5,9 Richter yang mengguncang Bantul dan sekitarnya pada Mei tahun 2006. Dengan cekatan ia membongkar kembali puing-puing yang memenuhi seluruh bekas rumah dan tempat usahanya, mencoba menemukan sesuatu yang dapat membangkitkan hidupnya kembali. Ah ya, mesin penggilingan itu masih utuh. Matanya berbinar melihat secercah harapan disana.
Di waktu lain, Rafiah, seorang perempuan berusia 47 tahun menemukan dirinya berada dalam sebuah rumah yang baru saja selesai ia bangun bersama suaminya, seorang nelayan, antara lain dengan menggunakan papan-papan kayu yang masih bisa digunakan dan ranting-ranting pohon yang ia temukan. Ia seorang perempuan yang telah membesarkan 6 orang anak dengan anak yang terkecil berusia 3,5 tahun. Ia melewatkan bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh, Desember 2004 yang antara lain telah merenggut tiga orang anaknya. Kini mereka menghadapi kenyataan bahwa rumahnya itu terancam digusur karena ada kebijakan dari pemerintah bahwa sepanjang garis pantai, orang tidak boleh menetap.
Salimah dan Rafiah hanyalah sedikit dari gambaran pengalaman yang harus dihadapi oleh perempuan ketika bencana alam terjadi. Tidak banyak perempuan yang seberuntung Salimah, tetapi mungkin lebih banyak yang seperti Rafiah. Sebagian lainnya harus menghadapi kenyataan lingkaran kemiskinan yang semakin menjerat karena ketiadaan akses terhadap segala jenis sumberdaya dan bentuk-bentuk pelatihan ketrampilan. Waktu mereka habis untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan hidup.
Di beberapa desa, lebih banyak perempuan yang meninggal oleh bencana gempa bumi dan tsunami, justru karena mereka sedang menyiapkan tugas mulia untuk kemanusiaan, di pagi hari, ketika mereka sedang meniupkan ruh kehidupan kepada rumahnya, kepada suaminya, kepada anak-anaknya. Pada saat gempa terjadi, beberapa perempuan mungkin berhasil menjauh dari bangunan rumahnya, namun mereka terpaksa harus kembali masuk rumah karena tugas-tugas perawatan kehidupan memanggil, mereka harus menyelamatkan anak-anaknya. Sebagian perempuan tidak diajarkan latihan fisik sehingga ketika bencana terjadi banyak yang tidak bisa menyelamatkan diri. Kondisi fisik perempuan terutama terkait dengan siklus reproduksi (kehamilan) dan jenis pakaian yang digunakan juga menjadi faktor yang cukup banyak berpengaruh terhadap banyaknya korban perempuan. Setelah bencana reda, mereka pulalah yang kini paling gelisah bagaimana kelanjutan kehidupan ini?
Saya perempuan korban bencana?
- Apa yang dapat saya lakukan sehari-hari?
- Apa yang mungkin saya kawatirkan tentang diri saya, suami, anak-anak, keluarga?
- Bagaimana saya mengatasi kekawatiran tersebut?
- Bagaimana memenuhi kebutuhan dasar dan ekonomi keluarga? Siapa yang akan melakukannya?
- Tuntutan-tuntutan sosial seperti apa yang akan saya rasakan?
- Kerentanan seperti apa yang mungkin saya alami?
- Bagaimana saya mengatasinya?
@ Adalah anggota asosiasi Perkumpulan Rifka Annisa. Disampaikan dalam Konferensi Nasional Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas VII di Yogyakarta tanggal 5 – 8 Desember 2011.
Unduh materi lengkap: Pengalaman Perempuan dan Inisiasi Pusat Krisis Berbasis Komunitas untuk PRB oleh Titin Murtakhamah


Post new comment