You are herePerbaikan Rumah Korban Gempa Padang Harus Diperkuat

Perbaikan Rumah Korban Gempa Padang Harus Diperkuat


By djuni - Posted on 01 February 2010

Perbaikan Rumah Korban Gempa Padang Harus Diperkuat 

Senin, 01 Februari 2010 | 10:19 WIB

TEMPO Interaktif, Padang — Kawasan pesisir Padang, Sumatera Barat, rawan likuifaksi sehingga banyak bangunan yang rusak berat dan ambles hingga 30 centimeter ke dalam tanah saat gempa 30 September 2009 terjadi.

Likuifaksi adalah fenomena lapisan tanah pasir berubah menjadi cairan sehingga tak mampu menopang beban bangunan di dalam atau di atasnya.

Tim Pendukung Teknis Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascagempa Sumatera Barat Bidang Perumahan, Febrin Anas Ismail, Senin (1/2), mengatakan untuk perbaikan rumah korban gempa yang berada di daerah rawan likuifaksi, pondai rumah harus diperkuat.

Ia menyebutkan, likuifaksi ini paling banyak di pantai karena ditentukan kondisi tanahnya yang berpasir-pasir lepas dan muka air tanah yang cenderung tinggi seperti di kawasan Air Tawar, Purus, dan Koto Tangah.

”Saat gempa kemarin kan terlihat, ada air seperti lumpur dan berpasir yang naik ke atas dari sumur dan rengkahan tanah di Air Tawar, ini karena likuifaksi, dan saat gempa, air yang mengaduk pasir inu menjadikan tanahya lunak seperti lumpur, akibatnya banyak bangunan rumah yang melesak beberapa centimeter ke bawah,” kata Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas ini.

Menurut dia, untuk membangun kembali rumah yang roboh karena gempa, di tempat yang likuifaksinya tinggi bisa dibangun dengan kekuatan khusus. ”Pondasi rumahnya diperkuat, bila perlu pondasi dicor semua pakai beton sehingga tekanan air di bawah bisa tertahan oleh beton, untuk bangunan tinggi bisa pakai tiang pancang yang jauh ke bawah,” jelas Febrin.

Ia mengatakan, pengkajian tentang kerawanan Padang terhadap likuifaksi sudah diikaji ITB dan Universitas Andalas dan sudah ada peta zonasinya. ”Tapi belum menjadi produk legal resmi dari pemerintah. Ke depan kita harus punya peta mikrozonasi yang lebih detil yang bisa memetakan kondisi likuifaksi dan mikrozonasi gempa,” kata Febrin.

Dengan pemetaan itu akan bisa pastikan mana daerah yang likuifaksinya tinggi dan mana yang rendah. Dari mengetahui peta itu, masyarakat yang ingin membangun rumah bisa menyesuaikan model pondasinya atau model struktur yang ada di situ.

”Termasuk juga peta mikrozonasi gempa. Mikrozonsi gempa ini juga terkait dengan tanah, mikrozonasi gempa ini intinya kita tahu kalau kita membangun di sini berapa percepatannya kalau gempa terjadi, ini untuk mengukur saat membuat perkuatan bangunan,” terang Febrin.

Sumber: Tempo Interaktif
 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
5 + 11 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.