You are hereSimulasi Bencana Banjir di Desa Rite Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima

Simulasi Bencana Banjir di Desa Rite Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima


By djuni - Posted on 16 March 2012

Puluhan Anak di Rite “Korban” Banjir Bandang

Foto: Tim Penanggulangan bencana saat mengevakuasi korban banjir, Sabtu (21/1). Ini merupakan rangkaian simulasi bencana tingkat Kabupaten Bima.

Bima, 21 Januari 2012.
Kepanikan menyergap warga Desa Rite Kecamatan Ambalawi, Sabtu (21/1) saat banjir bandang menyapu perkampungan. Puluhan anak menjadi korban banjir. Tangis sanak keluarga pecah, tatkala mendapat anaknya sudah tak bernyawa lagi.

Informasi bencana banjir itu segera diketahui oleh tim siaga bencana. Mereka pun meluncur kelokasi, evakuasi warga pun dilakukan ke tempat yang aman. Tim penyelamatpun mencari korban yang dihanyutkan banjir. Raungan kendaraan hilir mudik mengangkut korban yang ditemukan dan dibawa ke tenda darurat.

Semua warga diarahkan untuk berkumpul pada satu tempat evakuasi, yakni lapangan desa setempat. Selain posisinya yang lebih tinggi, juga dianggap aman.

Tim medis juga bekerja cepat, menolong korban yang luka. Ada yang patah tulang baik di kaki dan tangan. Namun ada yang tak dapat diselamatkan jiwanya.

Namun, semua itu adalah rangkaian dari simulasi penanggulangan bencana tingkat Kabupaten Bima yang dipusatkan di Desa Rite. Dipilihnya desa itu karena sebelumnya pernah dilanda banjir besar. Ratusan orang terlibat dalam simulasi ini, termasuk berbagai element, seperti BPBD Kabupaten Bima, Orari, Basarnas, Sat Pol PP, Dinas Sosial, Puskesmas Ambalawi, Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan, Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB), Danposramil Ambalawi, serta LP2DER Bima sebagai fasilitator kegiatan.

Kepala Desa Rite, A Wahid, mengaku bangga dipilihnya Desa Rite sebagai lokasi simulasi banjir tingkat Kabupaten Bima. Diharapkan dengan simulasi itu masyarakat dapat memahami tentang bagaimana upaya menanggulangi banjir.

Apalagi, kata dia, warga cukup antusias mengikuti kegiatan simulasi tersebut. Rite sendiri menjadi daerah rawan terjadinya bencana banjir. “Dulu pernah terjadi banjir besar di Rite, yang menghanyutkan sejumlah rumah,” katanya.

Camat Ambalawi, Supratman, merespon kegiatan simulasi banjir tersebut. Simulasi di Rite itu diikuti pula oleh sejumlah desa lain. Ambalawi sendiri kerap terjadi banjir, bahkan hampir setiap tahun. “Mudah-mudahan dengan simulasi ini, membuat masyarakat bisa siaga dalam menghadapi bencana,” ujarnya.

Danposramil Ambalawi, Serka Arifin, mengaku pihak TNI akan selalu siap membantu dalam penanggulangan bencana. Termasuk dalam kegiatan simulasi, pihaknya ikut ambil bagian.

Direktur LP2DER Bima, Ir Bambang Yusuf, sebagai fasilitator mengatakan simulasi ini menjadi puncak rangkaian dari kegiatan sebelumnya. Dipilihnya Rite, karena desa ini pernah dilanda banjir besar, namun desa sekitar juga diikutsertakan. “Simulasi ini sendiri untuk lebih memberi pemahaman kepada masyarakat, terutama saat bencana banjir datang,” ujarnya. (*)

Menduga Anaknya Hilang, Seorang Ibu Panik

Bima, 21 Januari 2012
Saat suasana panik ketika simulasi digelar dan tim siaga bencana bekerja ekstra, tiba-tiba seorang ibu menangis bersama anaknya. Sambil memegang ayam, berteriak mencari putra lainnya yang tidak terlihat di lapangan Desa Rite.

Tim berusaha untuk menenangkannya dan menjelaskan, jika anaknya ada dan tidak hilang. Namun sang ibu terus berteriak, karena mengaku sudah mencari anaknya diantara “korban”.

Apa yang dilakukan sang ibu oleh sebagian tim menduga hanya acting, sehingga seperti scenario, jika ada yang mengaku kehilangan keluarga, maka dibawa ke tempat korban dievakuasi. Jika tidak ada, maka akan dituntun ke tempat informasi, dimana terdapat foto-foto korban.

Namun sang ibu tetap menangis, termasuk satu putranya. Warga dan tim lainnya masih ada yang menduga yang dilakukannya adalah acting. “Sumpah anak saya benar-benar hilang, ibu bukan bohongan,” ungkapnya dengan sedikit emosi, karena tak percaya dan menduga sikapnya adalah sandiwara.

Warga yang terlibat dalam simulasi, memang terlihat serius dalam berakting. Seolah benar-benar terjadi banjir, ada yang menangis dan korban yang rata-rata anak-anak tetap memejamkan mata, hingga berakhirnya simulasi.

Pada bagian lain, didirikan dapur umum dan juga rumah sakit darurat untuk menangani korban yang cukup banyak. di Rite sendiri terdapat sungai yang kerap kali meluap saat musim penghujan.

Untuk itu juga mengapa sebagian warga memilih membangun rumah diketinggian, lantaran mengantisipasi banjir. Meski tak ada korban jiwa, namun hasil pertanian dan lahan sawah yang ditanami padi rusak akibat banjir. (*)
 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
6 + 11 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.