You are hereThe Sphere Project Humanitarian Standards

The Sphere Project Humanitarian Standards


By djuni - Posted on 13 January 2009

THE SPHERE PROJECT

The Sphere Project adalah inisiatif sukarela yang melibatkan beragam lembaga kemanusiaan bersama-sama untuk suatu tujuan bersama – yaitu memperbaiki mutu bantuan kemanusiaan dan akuntabilitas pelaku kemanusiaan terhadap konstituennya, para donor dan masyarakat yang terkena bencana.
 
The Sphere Handbook, Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response adalah rangkaian prinsip-prinsip umum dan standar-standar minimum universal dalam penyelamatan kehidupan dalam tanggap kemanusiaan.
 
Dibentuk pada tahun 1997, the Sphere Project bukanlah organisasi keanggotaan. Dikelola oleh suatu Badan yang terdiri dari perwakilan jejaring lembaga-lembaga kemanusiaan global. Sekarang ini The Sphere Project adalah suatu komunitas praktisi tanggap kemanusiaan yang bersemangat.
 
Visi The Sphere Project
"Sphere bekerja untuk suatu dunia di mana hak semua orang yang terkena bencana dibangun kembali kehidupannya dengan cara yang menghargai suara dan mempromosikan martabat, matapencaharian dan keamanannya."
[Strategi The Sphere Project 2015]
 
 
Buku Sphere
The Sphere Handbook: Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response (Buku Sphere: Piagam Kemanusiaan dan Standar-standar Minimum dalam Respons Kemanusiaan) tersedia dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa lainnya, termasuk bahasa Indonesia. 
 
Buku Sphere adalah salah satu rangkaian prinsip-prinsip umum dan standar minimum universal untuk menyampaikan tanggap kemanusiaan bermutu yang paling diketahui dan dikenali secara internasional. Karena tidak dimiliki oleh suatu organisasi, maka Sphere diterima secara luas di bidang kemanusiaan.
 
Buku panduan ini menempatkan hak-hak masyarakat yang terkena bencana menyangkut hak hidup bermartabat, perlindungan dan bantuan pada pusat aksi kemanusiaan. Dia mempromosikan partisipasi aktif masyarakat yang terkena juga pihak berwewenang setempat dan nasional, dan digunakan untuk merundingkan ruang dan sumber-sumber kemanusiaan dalam pekerjaan-pekerjaan kesiap-siagaan bencana.
 
Standar minimum mencakup empat bidang penyelamatan kehidupan bantuan kemanusiaan, yaitu pasokan air, sanitasi dan promosi kebersihan; ketahanan pangan dan gizi; hunian, pemukiman dan bantuan non-pangan; dan aksi kesehatan.
 
Sandingan Sphere
Pengurus The Sphere Project telah mengakui standar-standar yang dihasilkan oleh organisasi-organisasi dan jejaring yang aktif dalam pendidikan, pemulihan ekonomi, ternak sebagai standar rekan dan pelengkap the Sphere Handbook Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response. Mereka adalah buku INEE – Standar-standar Minimum Pendidikan: Kesiapsiagaan, Tanggap Darurat dan Pemulihan, buku LEGS – Standar dan Panduan Ternak dalam Tanggap Darurat, dan buku SEEP – Standar Minimum Pemulihan Ekonomi Pasca Krisis.  
 
Presiden IFRC (Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah) Tadateru Konoé menekankan pentingnya promosi ketaatan pada prinsip-prinsip kemanusiaan.
 
Komitmen the International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) pada hukum humaniter dan standar-standar dan secara khusus pada the Sphere Project disampaikan pada Konferensi Internasional ke 31 Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Dalam pernyataan pembukaannya, pada tanggal 28 November 2011, Presiden IFRC Tadateru Konoé mengafirmasi keterlibatan IFRC dalam inisiatif internasional termasuk Piagam Kemanusiaan dan Standar-standar Minimum dalam Respons Kemanusiaan, yang dikenal sebagai the Sphere Project.
 
"Gerakan (Palang Merah dan Bulan Sabit Merah) selalu di garda depan dalam mengangkat standar-standar kemanusiaan untuk membuat dunia tempat yang aman untuk semua," kata Konoé.
 
Inisiatif ini diikuti dengan keterlibatan kuat IFRC dalam “Panduan fasilitasi dan pengaturan bantuan darurat dan pemulihan awal internasional yang dikenal sebagai panduan IDRL,” jelasnya. Ini dapat membantu mengantisipasi dan menyelesaikan masalah-masalah umum peraturan operasi internasional, membantu meningkatkan kecepatan masuknya bantuan darurat dan memastikan pengendalian oleh pihak berwewenang setempat."
 
Berkaitan dengan pengembangan kapasitas anggota IFRC, Konoé membangkitkan “pentingnya promosi pemenuhan prinsip-prinsip kemanusiaan sebagai suatu dasar bersama untuk koordinasi di antara para mitra".
 
Presiden IFRC menekankan “karena bencana meningkat jumlah dan kerumitannya, pemerintah membutuhkan suatu sistem yang seimbang dan disiapkan dengan baik seperti digambarkan dalam Panduan IDRL jika bantuan internasional harus dikelola dengan tepat”.

Meningkatnya keterlibatan pemerintah dan militer dalam fase tanggap darurat bencana” dapat juga juga mengakibatkan kesulitan. Menurut Konoé, "salah satu tantangan utama dalam menjembatani bantuan nasional dan internasional adalah kurangnya kesepahaman, dialog dan sharing-pengetahuan di antara pemerintah yang terkena bencana dan masyarakat internasional. Ini mengakibatkan kesenjangan kepercayaan, juga kegagalan berkoordinasi, dan menghambat kemampuan bekerjasama dengan tepat."
 
"Kita harus membangun dan memelihara relasi dengan semua pelaku yang terlibat dalam tanggap darurat dan pemulihan, sementara bekerja sesuai mandat masing-masing dan melaksanakan prinsip-prinsip dasar yang membedakan kita,”  Konoé menegaskan.
 
Belajar mengenai Sphere
 
MPBI menawarkan kesempatan belajar sekadar kenal Sphere, atau tingkat dasar, penyegaran untuk telah mengenal Sphere sebelumnya, dan juga menawarkan pelatihan pelatih Sphere.
 
Bagaimana memanusiakan sesama dalam situasi kebencanaan, merupakan hal utama yang ingin disampaikan melalui Sphere, melalui prinsip-prinsip kemanusiaannya, yaitu:
·         Hak atas hidup bermartabat;
·         Hak atas bantuan; dan
·         Hak atas perlindungan dan keamanan.
 
Ketiga prinsip yang disebut Piagam Kemanusiaan diterjemahkan dalam 4 prinsip perlindungan dan standar-standar minimum dalam 4 bidang kehidupan utama.
 
Mendahului bidang-bidang teknis, ada 6 standar inti yang berlaku pada semua sektor, yaitu berpusat pada masyarakat; koordinasi dan kerjasama; pengkajian/penilaian; perancangan dan tanggapan; kinerja, transparansi dan pembelajaran; dan kinerja pekerja kemanusiaan.
 
Bagaimana memesan buku Sphere
Untuk edisi berbahasa Inggris, silakan kontak toko buku “Practical Action”.
Untuk edisi berbahasa Indonesia, silakan kontak MPBI, melalui : info@mpbi.org, atau telepon/facsimile . 021 445 880 79. 
 

SPHERE: Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum :

Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional, Bogor-Jawa Barat :: Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional, Denpasar-Bali :: Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional, Makassar-Sulawesi Selatan :: Pelatihan untuk Pelatih Sphere Tingkat Nasional, Magelang-Indonesia

Apa itu SPHERE? Memenuhi kebutuhan paling hakiki dan pemulihan kehidupan secara bermartabat merupakan prinsip inti dari semua upaya atau tindakan kemanusiaan. Tujuan dari piagam kemanusiaan dan Standar Minimum adalah untuk meningkatkan efektifitas bantuan kemanusiaan, dan membuat organisasi kemanusiaan lebih bertanggungjawab.

Hal ini berdasarkan pada dua keyakinan utama:

(1) segala cara yang mungkin hendaknya digunakan untuk meringankan penderitaan manusia akibat konflik atau bencana, dan

(2) korban bencana mempunyai hak untuk hidup bermartabat dan oleh karenanya berhak terhadap bantuan. Prakarsa tentang Sphere diluncurkan pada tahun 1997 oleh suatu kelompok Organisasi non Pemerintah (ORNOP) kemanusiaan dan gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah yang merumuskan suatu Piagam Kemanusiaan (Humanitarian Charter) dan menentukan Standar-Standar Minimum (Minimum Standars) untuk dicapai dalam respons bencana, pada tiap-tiap dari lima sektor kunci (sanitasi dan pasokan air, gizi, bantuan pangan, hunian dan pelayanan kesehatan). Proses ini menghasilkan diterbitkannya Buku Pegangan Sphere yang pertama pada tahun 2000.

Piagam Kemanusiaan Inti dari Buku Sphere adalah Piagam Kemanusiaan. Berdasarkan prinsip hukum kemanusiaan internasional, hokum hak asasi manusia internasional, hokum pengungsi, dank ode etik bagi Gerakan Palang merah dan Bulan Sabit Internasional serta LSM dalam penanggulangan bencana, Piagam Kemanusiaan menyatakan prinsip inti yang mengatur upaya atau tindakan kemanusiaan dan menegaskan hak korban bencana terhadap perlindungan dan bantuan. Piagam Kemanusiaan juga menegaskan tanggungjawab secara hokum Negara dan mereka yang bertikai untuk menjamin hak korban terhadap bantuan dan perlindungan. Jika mereka tidak dapat menjamin hak tersebut, mereka selayaknya memberikan izin organisasi kemanusiaan untuk melakukan upaya tersebut. Standar Minimum Minimum Standar dikembangkan dengan memanfaatkan jaringan pakar yang sangat luas untuk setiap sektornya. Kebanyakan dari Minimum Standar, dan indikatornya, bukanlah hal baru, tetapi merupakan kumpulan dan adaptasi dari pengetahuan dan praktik yang berkembang saat itu. Secara keseluruhan, Minimum Standar mewakili kesepakatan antara berbagai organisasi, dan menandai sebuah tekad baru guna meyakinkan bahwa prinsip kemanusiaan diwujudkan dalam setiap upaya kemanusiaan. Cakupan dan Keterbatasan Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum Kemampuan stiap organisasi mencapai Standar Minimum sangat tergantung dari berbagai faktor. Beberapa diantaranya dalam jangkauan control mereka, sementara itu terdapat faktor seperti politik dan keamanan yang berada di luar jangkauan kontrolnya. Faktor yang paling penting adalah sejauh mana sebuah organisasi kemanusiaan memperoleh akses kepada korban bencana, apakah mereka memperoleh dukungan dan kerjasama dari penguasa, dan apakah mereka dapat beroperasi dalam kondisi keamanan yang ada. Ketersediaan dana, sumberdaya manusia dan material yang cukup juga sangat mutlak adanya. Sementara Piagam Kemanusiaan merupakan pernyataan umum tentang prinsip kemanusiaan, Standar Minimum tidak dimaksudkan mengatasi seluruh masalah upaya atau tindak kemanusiaan. Pertama, Standar Minimum tidak mencakup semua bentuk bantuan kemanusiaan yang dibutuhkan. Kedua, dan yang lebih penting, Standar Minimum tidak mengatasi masalah Perlindungan kemanusiaan. Untuk memahani lebih jauh tentang Sphere, bisa dibaca di Buku"Sphere: Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana", Penerbit PT. Grasindo, Jakarta, April 2005.

Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional, Bogor-Jawa Barat Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) telah menyelenggarakan Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional pada tanggal 29 Agustus 2005 sampai tanggal 1 September 2005, di Bogor. Pelatihan ini diikuti oleh 24 peserta dari berbagai institusi/organisasi, baik wakil dari pemerintah, akademisi, LSM lokal dan internasional, masyarakat, dan sebagainya.

Berikut ini nama-nama yang mengikuti kegiatan pelatihan Sphere di Bogor :

1. Andi Saguni (Depkes RI) 2. dr. Aronica T.A. (B. S. M. I.(Bulan Sabit Merah Indonesia)

3. Benny B. Arnoldo (YKPMI) 4. Catur J. Sudira (MPBI) 5. Chairuddin (Peran) 6. Chandra Lukitasari (MPBI) 7. Christina M. Rantetana (Polhukam) 8. Efendi Panjaitan (Elsaka Sumut) 9. Hendra Permana S. (Mercy Corps.) 10. M. Hidayatussyadiqin (Kesbanglinmas Prop. Kalsel) 11. Maya Satochid (DiaKonie Emergency Aid) 12. Mufandi (Kesbanglimas Prop.Jambi) 13. Muhammad Saleh (HRC(Humanitarian Relief Center) 14. Nurjanah (Puskasi STKS Bandung) 15. Oya Rochita (Kerlip) 16. Raja Surya DM. (Polhukam) 17. Siswanto B.P. (Bakornas PBP Jakarta) 18. Siti Mulyati, Sip. (Dinas Trantib Jakarta Barat/Satkorlak DKI Jakarta) 19. Kompol. Susajato (Biro Ops Polda Metro Jaya) 20. Surya Aslim (Islamic Relief) 21. Teruna Jaya (CARE Internasional) 22. Tukino (Puskasi STKS Bandung) 23. Winarno Yusdi (IIDP) 24. Wuri Andayani (Cerdas Bangsa) Fasilitator Training : H. Iskandar Leman (Oxfam International, Oxfam Amerika)

Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional, Denpasar-Bali Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) telah menyelenggarakan Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional pada tanggal 29 Agustus 2005 sampai tanggal 1 September 2005 di Denpasar, Bali. Pelatihan ini diikuti oleh 25 peserta dari berbagai institusi/organisasi, baik wakil dari pemerintah, akademisi, LSM lokal dan internasional, masyarakat, dan sebagainya. Berikut ini nama-nama yang mengikuti kegiatan pelatihan Sphere di Denpasar : 1. Frans. K. Samon (SATKORLAK NTT) 2. Nike (CWS Nias) 3. Herman Waruwu (Surfaid Intl-Nias) 4. Agus Sardiyarso (BAKORNAS PBP Jakarta) 5. Didik S Mulyana (Komunitas Peduli Bencana) 6. Ose Luan (SATLAK KAB. BELU) 7. ET Paripurno (Pusat Studi Bencana-UPN Yogya) 8. Jus Nakmofa (FKPB – Kupang) 9. Aminuddin Kirom (MPBI) 10. Aron Hutasoit (PMK HKP Jakarta) 11. Achfas Zacoeb (UNIBRAW – Malang) 12. Tonny S bengu (Care Intl Indonesia) 13. Endra (PMI daerah Bali) 14. Yanto (Care international) 15. Indro (PPMK – Depkes) 16. Sutrisna (Islamic Relief Indonesia) 17. Ketut Nendra (Kesbang Linmas Bali) 18. Nyoman Cindra (SATKORLAK NTB) 19. Petra Schneider (Yayasan IDEP) 20. Sofyan (WALHI EKNAS) 21. Tiromsa Sinaga (Yayasan IDEP) 22. Gendon (Kappala Indonesia-Jogja) 23. A. Junaidi (WALHI – NTB) 24. Eko Supeno (LPPM – UNAIR) 25. Nus Silli (Fird Ende) Fasilitator Training 1. Benny Usdianto (Oxfam GB) 2. Dr. R. Heru Ariyadi, MPH. (Indonesian Red Cross/PMI) 3. Banu Subagyo (Oxfam GB) 4. Theresia Wuryantari (MPBI) 

Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional, Makassar-Sulawesi Selatan Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) telah menyelenggarakan Pelatihan Dasar Sphere Tingkat Nasional pada tanggal 5-8 September 2005 di Makassar-Sulawesi Selatan. Pelatihan ini diikuti oleh 34 peserta dari berbagai institusi/organisasi, baik wakil dari pemerintah, akademisi, LSM lokal dan internasional, masyarakat, dan sebagainya. Berikut ini nama-nama yang mengikuti kegiatan pelatihan Sphere di Makassar : 1. Agus Setiawan (Oxfam Banda Aceh) 2. Ambo Tang (YSBB) 3. Arief Rachman (YPSHK) 4. Asmar Exwar (Jurnal Celebes) 5. Eddy Purwanto (YEU – Ambon) 6. Eko Yuli Handoko (Pusat Studi Bencana ITS – Surabaya) 7. Faisal Djalal (Como Consulting) 8. Fatchul Hadi (Bakornas PBP) 9. Hasan S.Pd (LEMM Lembaga Eksistensi Muslim Maluku) 10. Heryansyah (Oxfam Banda Aceh) 11. Inda Fatinaware (Pokja Analisis dan Studi Kebijakan) 12. Irmalisa (Oxfam Banda Aceh) 13. Iskandar Lamuka (LPMS Sulteng) 14. Johny D.A. Saptenno (CARDI Maluku) 15. Junet da Costa (Yayasan Hualopu Ambon) 16. Dr. Kusrini (Dinas Kesehatan Sulsel 17. Masna Indra Ria (Perhimpunan KPKP ST) 18. Moersen SB SE (SATKORLAK PBP Dinas Kessolinmas) 19. Muh. Artsal (SAR UNHAS) 20. Muh. Yusuf (Yay. Biasreka) 21. Murkdianingsih (YAKKUM Emergency Unit) 22. Okta Fitrianos (OXFAM Banda Aceh) 23. Saiful Bahri (Oxfam Banda Aceh) 24. Saiful Syahman (Islamic Relief) 25. Sang Anggapratiwi (Depkes RI Jakarta) 26. Sri Eddy Kuncoro (ACT DD) 27. Supardi Lasaming (WALHI Sulteng) 28. Tonny Victor (Oxfam Banda Aceh) 29. Tri Dani Widyastuti (Pusat Studi Bencana ITS) 30. Usman Fabanyo (LSM Primari Nabire Papua) 31. Vandayani I.Y. Lumunon (CARDI Maluku Utara) 32. Yozia Tikupadang (CWS) 33. Nurdin Amir (Walhi Sulsel) 34. Dandy (YLK Sulsel) Fasilitator Training : 1. Benny Usdianto (Oxfam GB) 2. H. Iskandar Leman (Oxfam International, Oxfam America)

Pelatihan untuk Pelatih Sphere Tingkat Nasional, Magelang-Indonesia Pelatihan untuk Pelatih Sphere Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh MPBI ini berlangsung dari tanggal 18-23 September 2005, di Magelang-Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan pelatihan ketiga untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik, dan pertamakali diselenggarakan di Indonesia. Peserta yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 22 orang, yang sebelumnya para peserta ini telah mengikuti pelatihan dasar Sphere di tiga kota (Bogor, Denpasar, dan Denpasar). Selain berasal dari beragam latarbelakang (pemerintah, akademisi, LSM lokal/internasional, masyarakat), ke-22 peserta tersebut merepresentasikan wilayah yang berbeda-beda: 10 peserta berasal dari Jakarta, 3 dari Jawa Tengah, 2 dari Jawa Timur, 2 dari Sulawesi Selatan, 2 dari Aceh, 1 dari Bali, 1 dari Papua, dan 1 peserta dari Nusa Tenggara Timur. Berikut ini nama-nama peserta yang ikut TOT Sphere di Magelang. 1. Adi Nugroho (SHEEP Indonesia 2. Ambo Tang (YSBB-Makassar) 3. Banu Subagyo (Oxfam GB) 4. Catur J. Sudira (MPBI) 5. Didik S. Mulyana (Komunitas Peduli Bencana) 6. Edi Purwanto (YEU – Ambon) 7. Eko Supeno (LPPM-UNAIR) 8. Endra Setyawan (PMI Bali) 9. Faisal Djalal (Como Consulting-Jakarta) 10. Inda Fatinaware (Pokja Analisis dan Studi Kebijakan-Makassar) 11. Julius Nakmofa (FKPB-Kupang) 12. Nurjanah (Puskasi STKS-Bandung) 13. Oya Rocita (Kerlip-Bandung) 14. Raja Surya DM. (Polhukam) 15. Saiful Syahman (Islamic Relief) 16. Sigit Gendon Widdiyanto (Kappala Indonesia-Yogyakarta) 17. Sofyan (Desk Aceh-Walhi Eknas) 18. Surya Aslim (Islamic Relief) 19. Tri Dani Widyastuti (Pusat Studi Bencana ITS-Surabaya) 20. Usman Fabanyo (LSM Primari-Nabire, Papua) 21. Wanti Maulidar (Yayasan Bungoeng Jeumpa) 22. Winarno Yusdi (IIDP-Jakarta). Fasilitator Training : 1. Mark Prasopa-Plaizier (pernah di RedR, sekarang di Oxfam International, Geneva) 2. Lusi (Oxfam Australia) 3. Ginny (Oxfam Australia) 4. Benny Usdianto (Oxfam GB) 5. H. Iskandar Leman (Oxfam International, Oxfam America) 6. Eko Prasetyo (CWS)

Pelatihan  Dasar “Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana Proyek Sphere”

Yogyakarta, 17-20 September 2006

MPBI bekerjasama dengan HIVOS telah menyelenggarakan Pelatihan Dasar Piagam Kemanusiaan Proyek Sphere dan Standar Minimum dalam Respons Bencana di Hotel GALUH, Prambanan, Yogyakarta pada hari Minggu, 17 September sampai dengan Rabu, 20 September 2006.

Pelatihan diikuti oleh 22 orang peserta pelatihan yang mengikuti pelatihan sejak awal, namun hanya 20 orang yang dinyatakan lulus dan 2 orang dinyatakan tidak lulus akibat tidak mengikuti salah satu sessi. Dari 22 orang peserta tersebut masing-masing terdiri atas 11 orang perempuan dan 11 orang laki-laki yang mewakili mitra-mitra Hivos.

Tim Fasilitatornya adalah : Inda Fatinaware dan Ambo Tang.

Adapun mitra latih yang mengikuti pelatihan tersebut adalah :

1.       Lesman

2.       Persepsi

3.       Yayasan Kembang

4.       Circle Indonesia

5.       Dream/Kappala

6.       FKSIP (2 orang)

7.       Setara

8.       Jarnop

9.       Sahabat Perempuan

10.    Seknas Asppuk

11.    RTND

12.    KRKP

13.Jaringan komunitas siaga merapi

14. Kesbang Linmas Boyolali

15. Guru SMPN 1 Wedi

16. Dinkes dan Dinsoso Boyolali

17.Arak Kalten

 

Pelatihan  Dasar “Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana Proyek Sphere”

Jakarta, 6-10 Juli 2009

MPBI telah menyelenggarakan Pelatihan Dasar Piagam Kemanusiaan Proyek Sphere dan Standar Minimum dalam Respons Bencana di Ruang Pelatihan MPBI, Jl. Kebon Sirih 5 G Jakarta Pusat pada 6-10 Juli 2009. Tim Fasilitatornya adalah : H. Iskandar Leman, Adi Nugroho, Oya Rocita. Pelatihandihadiri oleh13peserta, 4di antara merekaadalah perempuan. Para pesertabekerja dipemerintah kabupatenlokal (Kesbanglinmas, lembagayangmenangani manajemenbencana), sektor swasta(Unilever, konsultan freelance), INGO(Plan International, ArbeiterSamariaBundDeutschlandev), United Nations Fund for Population Agency (UNFPA), LSM Nasional(CBDRM Nahdlatul Ulama- salah satuOrganisasiIslamterbesaryang unitberkaitan dengan masyarakatberbasis manajemenrisiko bencana), dan LSMlokal (Yayasan Jambata, Palu). Distribusi geografisadalah Jakarta, Yogyakarta, Palu(Sulawesi Tengah), Tahuna(Sulawesi Utara), dan Maumere(Flores).

Berikut nama-nama peserta yang mengikuti pelatihan ini:

1.        Abdul Jamil, Jamil (CBDRM NU)

2.        As Ari Wahyu Utomo (ArbeiterSamariaBundDeutschlandev)

3.        Dyah Harini/Nunu (MPBI)

4.        Katharina Maria Anggraeni D.K.Ardi (Plan Indonesia)

5.        Lany Harijanti (UNFPA)

6.        Leny Jakaria (UNFPA)

7.        Maryadi Nurhadiprayitno (MP2KI – DKI Jakarta)

8.        Rockefeler M. Parera (Kesbang dan Linmas Kabupaten Kepulauan Sangihe)

9.        Sari Ranti Tobing (Yayasan Unilever Indonesia)

10.     Wahyu Sulastomo (ArbeiterSamariaBundDeutschlandev)

11.     Yohanes B. Joman  (Plan Indonesia)

12.     Yovianus Toni Sakera (PADMA)

13.     Zarlif (Jambata)

 

Pelatihan  Dasar “Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana Proyek Sphere”

Jakarta, 14-17 Desember 2009

MPBItelah menyelenggarakanPelatihan DasarPiagamKemanusiaanProyek Spheredan Standar Minimum dalamRespons BencanadiRuang Pelatihan MPBI, Jl. Kebon Sirih 5 G Jakarta Pusatpada14-17 Desember2009.

Pelatihan diikuti oleh 9 orang mitra latih yang terdiri dari 1 perempuan dan 8laki-laki berasal dari Caritas Czech Republic (CCR), Kogami Padang, BPBD Kabupaten Sangihe, Badan Lingk Hidup Kab. Sangihe, Plan International Dompu.

Tim Fasilitatornya adalah : H. Iskandar Leman (MPBI) dan Adi Nugroho (MPBI).

Adapun mitra latih yang mengikuti pelatihan tersebut adalah :

1.        Daniel Parande (Caritas Czech Republic)

2.        Deni Sugiarto (Caritas Czech Republic)

3.        Sapta Pramudya Pandia (Caritas Czech Republic)

4.        Said Ridha (Caritas Czech Republic)

5.        Roni Pasla (Kogami Padang)

6.        Sukardi (BPBD Kabupaten Sangihe)

7.        Elvira Juanita Aling (Badan Lingk Hidup Kab. Sangihe)

8.        Abdul Haris (Plan International Dompu)

9.        Hasan Ahmad (Plan International Dompu)

 

 

Pelatihan  Dasar “Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana Proyek Sphere”

Jakarta, 18-22 Mei 2010

MPBItelah menyelenggarakanPelatihan DasarPiagamKemanusiaanProyek Spheredan Standar Minimum dalamRespons BencanadiRuang Pelatihan MPBI, Jl. Kebon Sirih 5 G Jakarta Pusatpada18-22 Mei 2010.

Pelatihan diikuti oleh 3orang mitra latih yang terdiri dari 2 perempuan dan 1laki-laki berasal ydari RS Islam Surabaya – Jemursari, Sucofindo, Mercy Corps. Tim Fasilitatornya adalah : Catur Djoko Sudira (MPBI) dan Sofyan (MPBI).

Adapun mitra latih yang mengikuti pelatihan tersebut adalah :

1.        dr. Eko Wahyu Agustin (RS Islam Surabaya – Jemursari)

2.        Novianti Lestari (Sucofindo)

3.        Dasci Fadihu (Mercy Corps)

 

Pelatihan Pelatih Sphere (ToT Sphere) dan Pelatihan Dasar

Bandung, 12-16 Juli  2010

MPBItelah menyelenggarakanIn House Pelatihan Pelatih PiagamKemanusiaanProyek Spheredan Standar Minimum dalamRespons Bencana(TOT Sphere) diKantor Ibu Foundation  di Bandung, Jawa Barat pada12-16 Juli 2010.

Pelatihan diikuti oleh 8 orang mitra latih dari Ibu Foundation yang terdiri dari 3 perempuan dan 5laki-laki. Fasilitatornya adalah : Catur Djoko Sudira (MPBI), Sofyan (MPBI), Adi Nugroho (MPBI), Oya Rocita .

Adapun mitra latih yang mengikuti pelatihan ToT Sphere tersebut adalah :

1.        Mulyana Brata Manggala

2.        Muhammad Raden Ricky Ismail

3.        Vanie Marissa Iskandar

4.        Iswar Abidin

5.        Endri Budiwan

6.        Rika Setiawati

7.        Ranti Wulansari

8.        dr. Ridwan Gustiana

 

Adapun mitra latih yang mengikuti Pelatihan Dasar Sphere tersebut adalah :

1.        Destrian Setiawan

2.        Muhammad Fauzi

3.        Lina Meutia Moeis

 

 

Pelatihan  Dasar “Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana Proyek Sphere”

Jakarta, 8-12 Maret 2011

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) bekerjasama dengan Oxfam Timor Lestetelah menyelenggarakan Pelatihan Dasar Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum Respons Bencana – Proyek Spheredi Jakarta dari tanggal 8 – 12 Maret 2011 yang diikuti oleh 10 orang mitra latih terdiri dari 9 orang laki-laki, 1 orang perempuan.

Mitra latih berasal dari Oxfam Timor Leste, Administrator district Oecusse, Penanganan Sosial,  Focal Point Disaster District, mitra lokal FFSO, di Oecusse, Covalima, Dili, Timor Leste. Pelatihandiselenggarakan di Hotel SofyanBetawi, Jakarta danmitralatihtinggal di hotel tersebutjuga.

Fasilitator pada pelatihan ini adalah dr. H. Iskandar Leman, MDM (MPBI) dan Catur Joko Sudiro (MPBI).

Pada akhir pelatihan mitralatihmerencanakanmempelajarikembalibahan-bahanpelatihan, melaporkanpadaatasannyadanmembagikanpembelajarannyakepadarekanrekankerja, membuat Workshop district, membuatpelatihan sphere sertaberminatmengikutipelatihanpelatihan lain yang dilakukan MPBI. Fasilitator merekomendasikan Oxfam GB untuk memantau pelaksanaan rencana tindak lanjut mitra latih dan mendukung mitra untuk melaksanakan rencana mereka.

 

Adapun mitra latih yang mengikuti Pelatihan tersebut adalah :

1.        Afonso Nogueira Nahak/Alfonso (Government Secretario DDMCCovalima)

2.        Antonio Da Costa Santos Government (MSS DNGN Timor Leste)

3.        Carlos Dos Santos Correia (CCA & RIC StafOxfam Timor LesteRua Bidau Akadiruhum,Dili Timor Leste)

4.        Cornelio Da Cruz De Araujo (Government Focal point for Disaster District Oecusse Timor Leste)

5.        Felisbela De Araujo (Government Focal point for Disaster District Covalima Timor Leste)

6.        Jose Anuno (Government  District Administrator, President DDMC District Oecusse Timor Leste)

7.        Luis Fernandes (CCA & RIC StafOxfam Timor LesteRua Bidau Akadiruhum,Dili Timor Leste)

8.        HumanitarianProgramOxfam Timor LesteRua Bidau Akadiruhum,Dili Timor Leste)

9.        Valeriano Lucrecio Dos Reis Madeira (LogisticCoordinatorOxfam Timor LesteRua Bidau Akadiruhum,Dili Timor Leste)

10.     Zeca de Carvalho (Lokal NGO Timor Leste (FFSO Oecusse)

 

 

Pelatihan Pelatih Sphere 2011 ToT

Bogor, 27 November -3 Desember 2011

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) bekerjasama dengan International Federation of Red Cross and Red Cresent Societies (IFRC) telah menyelenggarakan SPHERE 2011 Training of Trainers. Pelatihan pelatih ini bertaraf internasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Pelatihan diselenggarakan di D’Agape Residence Gadog, Bogor dari tanggal 27 Nov3 Des 2011. Pelatihan diikuti oleh 22 orang mitra latih yang terdiri dari 8 perempuan dan 14 laki-laki berasal dari IFRC, Palang Merah Indonesia, Palang Merah Belgia, Palang Merah Italia, Palang Merah Australia, Palang Merah Kanada, Action Contre le Faim, Save the Children, The Johanniter International dan World Vision International.

Tim Fasilitator terdiri dari : Vikrant Mahajan (Sphere India), H. Iskandar Leman (Focal Point Sphere Indonesia - MPBI) dan Benny Usdianto.

Selama pelatihan mitra latih mendengarkan paparan, berdiskusi, dan berlatih memfasilitasi sesi pelatihan. Mitra latih menilai sasaran pelatihan tercapai, harapan peserta pelatihan terpenuhi, dan merasa puas dengan proses pelatihan.

Mitra latih merencanakan mempelajari kembali bahan-bahan pelatihan, melaporkan pada atasannya dan membagikan pembelajarannya kepada rekanrekan kerja, serta akan menerapkannya dalam tugasnya.

 

Adapun mitra latih yang mengikuti Pelatihan tersebut adalah :

1.        Agung Lestyawan (International Federation Red Cross/IFRC)

2.        Anggraeni Puspitasari (World Vision Indonesia)

3.        Arna Ferra Juanie (PMI Jawa Timur)

4.        Dewi Sri Sumanah (PMI Jakarta Utara)

5.        Dewi Reny Anggraeni (PMI Bali)

6.        Doda Goccy Nugroho (Action Contre la Faim/ACF)

7.        Fadli  Usman(World Vision Indonesia)

8.        Febriant Abby Marcel Mamesah(World Vision Indonesia)

9.        Handry  Hatta (Canadian Red Cross)

10.     Lana Kuduzovic(Canadian Red Cross)

11.     Lufti Faurusal Hasan (PMI Ketapang)

12.     Maureen Laisang (Save The Children)

13.     Matteo  Ciarli (Italian Red Cross)

14.     Novelina   Laheba(International Federation Red Cross/IFRC)

16.     Robertus Sulistyo(International Federation Red Cross/IFRC)

17.     (International Federation Red Cross/IFRC)

18.     Tonggo Uli Yusmaniar Manurung (The Johanniter International)

Australian Red Cross)

20.     (International Federation Red Cross/IFRC)

22.