You are hereTAGANA Diskusi Publik, Rumuskan Pola Penanggulangan Bencana

TAGANA Diskusi Publik, Rumuskan Pola Penanggulangan Bencana


By djuni - Posted on 02 February 2010

TAGANA Diskusi Publik, Rumuskan Pola Penanggulangan Bencana
By redaksi at 26 January, 2010, 7:07 am

Sumbawa Besar, Gaung NTB
Penanganan bencana alam maupun bencana social yang terjadi di wilayah Kabupaten Sumbawa, kerap dilakukan secara parsial atau sendiri-sendiri, tanpa adanya koordinasi antara satu dengan lainnya. Kondisi ini menyebabkan penanganan bencana menjadi tidak maksimal bahkan justru menimbulkan persoalan.

Untuk menyatukan kesepahaman bersama dan merumuskan pola strategis penanggulangan bencana, Forum Komunikasi Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Kabupaten Sumbawa berinisiatif menggelar diskusi publik dan simulasi penanggulangan bencana. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari, 23—24 Januari 2010 di Aula Kantor Lurah Brang Biji ini, dihadiri sedikitnya 200 peserta yang berasal dari dinas/instansi, Lurah, ketua RT, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, LSM, akademisi, dan warga yang tinggal di pesisir pantai dan daerah aliran sungai (DAS).

Dalam laporannya, Koordinator TAGANA, Lukman Hakim menyatakan bahwa kondisi geografis Kabupaten Sumbawa yang merupakan pegunungan dan sungai, menjadikan daerah ini rawan bencana. Hasil pemetaan atau mitigasi bencana yang dilakukan TAGANA menyebutkan teklah terjadi sejumlah bencana di daerah ini di antaranya banjir bandang pada Tahun 2001 dan 2005, tanah longsor dan gempa bumi bahkan Tsunami di Lunyuk Tahun 1974. Berangkat dari kondisi tersebut, TAGANA menggelar diskusi public dan simulasi penanggulangan bencana.
Tujuan dari kegiatan ini paparnya, untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan wadah peningkatan sumber daya anggota TAGANA dalam rangka menjalankan tugas sebagai taruna siaga bencana. Kemudian, meningkatkan kesiapsiagaan TAGANA dalam menghadapi segala bentuk bencana yang akan terjadi, di samping meningkatkan pemahaman dan keterampilan anggota dalam menjalankan tugas kewajiban sebagai ujung tombak Depsos RI untuk menanggulangi bencana. Tujuan lain dari kegiatan ini sambungnya, merumuskan pola strategis penanggulangan bencana di Kabupaten Sumbawa.

Sekda Sumbawa diwakili Kepala Kesbanglinmas, Drs Arief M.Si, saat membuka secara resmi kegiatan ini menyatakan bahwa pemerintah daerah memberikan apresiasi yang tinggi kepada FK TAGANA atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Ini kegiatan positif dan harus didukung,” ucapnya.

Dikatakan Arief, terjadinya bencana alam maupun social akan berdampak jatuhnya korban, kerusakan harta benda dan lainnya.

Dalam menanganinya, sebut Arief, ada tiga tahapan yang harus dilakukan yakni pada pra, saat dan pasca bencana. Namun Arief tidak menampik kalau penanganan bencana yang dilakukan selama ini bergerak secara parsial, sehingga hasilnya tidak maksimal.

Karena itu perlu adanya koordinasi dan sinergisitas semua pihak untuk secara bersama mengatasi segala persoalan bencana. “Kami yakin dari kegiatan ini akan lahir rumusan bagaimana pola strategis penanggulangan bencana di daerah ini,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Disos Sumbawa, Drs H Masarang Syam salah satu narasumber, mengatakan bahwa bantuan yang disalurkan Disos kepada korban bencana bersifat tanggap darurat. Pihaknya harus memastikan bahwa bantuan itu tersalur dengan baik, tepat waktu dan tepat sasaran. Ia mengakui, sebelum adanya TAGANA, penyaluran bantuan tidak cepat dan kerap tidak tepat sehingga ada kesan kurang puas dari korban bencana. “Alhamdulillah dengan peran TAGANA sebagai mitra Dinas Sosial dan lini terdepan dalam penanggulangan bencana, penyaluran bantuan menjadi cepat dan tepat serta tanpa birokrasi yang berbelit-belit,” akunya.

Sementara itu Kapten I Wayan Saledra—perwakilan Kodim 1607 Sumbawa dalam pemaparannya, menyatakan bahwa TNI ikut berperan dalam penanggulangan bencana. Peran ini merupakan program TNI melalui operasi militer selain perang, di samping penanganan terorisme dan illegal logging.

Di tingkat kecamatan, diakui Saledra, TNI membentuk tim yang bertugas pada pra, saat dan pasca bencana. Untuk Pra memberikan pemahaman dan wawasan kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan sehingga bisa dinikmati oleh anak cucu.

Saat bencana terjadi, TNI katanya, membantu mengevakuasi para korban dan membangun Posko Darurat. Kemudian Pasca bencana, melakukan rehabilitasi terhadap dampak yang ditimbulkan bencana.

Sementara itu Kepala BMKG Sumbawa, Dra Catur Winarti menyatakan bahwa secara umum wilayah NTB khususnya Sumbawa berpotensi bencana baik akibat prilaku cuaca maupun pergempaan. Untuk prilaku cuaca, sebut Catur, hingga Maret diperkirakan masih terjadi hujan lebat, angin kencang dan gelombang pasang.

Potensi gempa juga sangat mungkin, sebab Sumbawa bagian utara terdapat patahan punggung belahan bumi dan di bagian selatan terjadi pertemuan lempeng dengan pergerakan yang aktif sehingga berpotensi terjadinya gempa.

Simulasi Dialihkan

Sementara itu simulasi penanggulangan bencana yang sedianya dilaksanakan FK TAGANA Sumbawa di Sungai Brang Biji, Minggu pagi, dialihkan ke Dusun Kauman Desa Labuan dan Dusun Buen Pandan Desa Karang Dima.

Pasalnya, dua dusun tersebut dilanda banjir sejak Sabtu malam. Seluruh personil TAGANA langsung memberikan penanganan saat bencana dengan membangun tenda darurat, evakuasi korban dan pendataan. Kemudian melakukan penanganan pasca bencana dengan menyalurkan bantuan dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk penanganan berkelanjutan. “Simulasi itu telah kami praktekkan pada kejadian yang sesungguhnya,” demikian Lukman Hakim—Koorditor FK TAGANA Sumbawa.

Sumber: Gaung NTB
 

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.