You are hereInformasi Paska Tsunami Pangandaran dan Berita Lainnya, Senin 14 Agustus 2006
Informasi Paska Tsunami Pangandaran dan Berita Lainnya, Senin 14 Agustus 2006
Senin, 14 Agustus 2006, 14:22 WIB
Informasi Paska Tsunami Pangandaran dan Berita Lainnya, Senin 14 Agustus 2006
A. Informasi Paska Tsunami Pangandaran:
Satkorlak Pangandaran : Kemarin (13/8) pukul 16.14 terjadi gempa di kedalaman 77 km dan dengan kekuatan 5.1 SR. Getaran cukup terasa dan temponya lama yang sempat menimbulkan kepanikan. Hal ini menyebabkan bertambahnya jumlah pengungsi karena banyak warga dari desa Penanjung Kabupaten Pangandaran yang kembali mengungsi. Saat ini warga kembali tenang dan mereka dibantu aparat TNI dan Kepolisian berjaga di pesisir pantai mengantisipasi kondisi pinggir pantai. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi : Satkorlak Pangandaran : 0265-699611.
B. Paska Gempa Yogyakarta :
Sleman : Pembagian dana bantuan rekonstruksi akan ditangani oleh tim asisten dari Dinas Pemukiman dan Prasana Wilaya (Kimpraswil) Provinsi DIY. Dana bantuan akan diberika kepada 4000 rumah roboh dari Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul yang nantinya setiap kelompok didampingi tiga ahli arsitekur dan teknik sipil yang direkrut oleh Kimpraswil. Untuk pembagian dana, warga yang memperoleh bantuan diminta membuat rekening dan nantinya uang akan disalurkan lewat rekening tersebut. Dana bantuan sekitar 15 juta rupiah per rumah roboh tersebut akan dibagikan dalam tiga tahap yaitu lima juta untuk modal awal pembangunan selanjutnya sepuluh juta berikutnya akan dicairkan berdasarkan progres report dari tiga orang tim ahli Kimpraswil dari tiap kelompok. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi : Koko : 08164895250.
C. Berita Lainnya :
Kekeringan :
Purwokerto; sedikitnya 7.525 hektare (ha) sawah di Jawa Tengah kekeringan dan 729 ha di antaranya puso. Kekeringan terparah terjadi di Kabupaten Kendal, Pemalang, dan Cilacap. Kepala Dinas Pertanian dan tanaman Pangan (dispertan) Jawa Tengah (Jateng) Bambang Supriyadi mengatakan jika dibadingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kekeringan tahun ini lebih ringan. Pada 2005, hingga mingggu pertama Agustus luas lahan sawah yang kekeringan mencapai 68.00 ha dan 15.00 ha di antaranya puso. Meski demikian, instansinya terus berupaya mengatasi dan mengantisipasi agar tidak makin parah. Antara lain, sawah yang kekringan tetap diperlakukan khusus, misalnya petani diberi bantuan pompa air atau sumur pantek. (Media Indonesia, 14 Agustus 2006).
Bandung; Kota Bandung, Jawa Barat, mulai mengalami krisis air bersih akibat kemarau. Perusahaan daerah air minum (PDAM) setempat membatsi pasokan air kepda pelanggan. Menurut Humas PDAM Kota Bandung, Melina, pembatasan supali air bersih kepada pelanggan dilakukan sejak 2 minggu lalu. Dia mengakui perusahaannya kesulitan mendapatkan air baku karena kekeringan. Air baku yang kini dimanfaatkan PDAM untuk menyuplai air bersih kepada pelanggan bersumber dari air permukaan, sumur artesis, dan air dari sumur bor. Namun, menurut Meliana, pada musim kemarau permintaan air bersih meningkat drastis. Masyarakat yang bukan pelanggan PDAM juga meminta air bersih dari PDAM, karena sumur mereka kering. Sementaa itu, kapasitas produksi PDAM terbatas, yakni 2.500 liter per detik. (Media Indonesia, 14 Agustus 2006).
Banten; kesulitan air bersih akibat kemarau terus dialami warga lima kecamatan di Kabupaten Serang. Mereka harus menempuh jarak tiga sampai empat kilometer untuk memperoleh air. Kelima wilayah kecamatan tersebut adalah Waringinkurung, Pontang, Carenang, Tanaa, dan Kecamatan Tirtayasa. Sumber-sumber air milik warga mengering sejak memasuki musim kemarau pada Juni lalu. Warga Waringkurung terpaksa menggunakan air sungai untuk mandi dan cuci pakaian, juga untuk air minum. (Media Indonesia, 14 Agustus 2006).
Paska Tsunami :
Bandung; jumlah pengungsi korban gempa dan tsunami di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (Jabar), yang terjangkit jenis penyakit berbahaya terus bertambah. Hingga sabtu (12/8), sedikitnya 534 pengungsi di enam kecamatan terserang penyakit, seperti cacar, diare, infeksi saluran pernapasan (ISPA), dan demam. Sedangkan persediaan obat-obatan yang dimiliki Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Ciamis dan Rumah Sakit Banjar (RS) Kota Banjar sangat terbatas. Sebelumnya jumlah pengungsi yang terjangkit 384 orang. Mereka kebayakan tinggal di tenda-tenda darurat, di Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang. Sedangkan sisanya, tersebar di lima kecamatan lain, yaitu Pangandaran, Parigi, Cijulang, Cimerak, dan Sidamulya. (Media Indonesia, 14 Agustus 2006).
Antisipasi Tsunami :
Padang; Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyiapkan Peraturan Daerah tentang Antisipasi Bahaya Tsunami. Peraturan ini sangat penting karena sekitar 1 juta penduduk di wilayah ini tinggal di pesisir yang rawan bencana tsunami. Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi mengatakan peraturan itu akan dibuat di tingkat provinsi, kabupaten, dan kota. Peraturan di tingkat provinsi antara lain mengatur anggaran pembangunan fisik, seperti pembuatan jalan yang mengarah ke tempat yang lebih tinggi serta pembuatan peta, buku, dan komik tentang tsunami. Peraturan tersebut juga berisi kewajiban daerah lain di Sumatera Barat yang bebas dari ancaman tsunami untu membantu daerah yang terkena bencana. (Tempo, 14 Agustus 2006).
Kabut Asap :
Kayu Agung; sejak tiga hari terakhir kabut asap menyelimuti ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kayu Agung, Sumatera Selatan. Asap diduga kiriman dari hutan gambut di wilayah Kayu Agung-Sepucuk yang terbakar. Kabut asap mulai terlihat menjelang sore hingga malam hari. Meski kabut cukup tebal tapi belum menggangu pandangan mata pengemudi kendaraan. Jarak pandang berkisar antara 50 hingga 100 m. Tetapi keberadaan kabut ini cukup membuat mata menjadi perih dan pernapasan menjadi sesak. Selain di dalam kota Kayu Agung, kabut asap juga terdapat di Kecamatan Pampangan, Tulung Selapan, SP Padang, Cengal, dan Sungai Menang. Hal ini diakibatkan oleh banyaknya hutan gambut yang terbakar di Kecamatan tersebut. (www.rakyatmerdeka.co.id).


Post new comment