"rasa aman dan terlindungi dari bencana adalah hak asasi rakyat"


CARR Governance Indonesia Issue 4

CARR Governance Indonesia

Issue 4, March 2012
ISSN: 2089-2160

Briefing Note 1. Towards a Post-2015 Framework for Disaster Risk Reduction: Indonesian Civil Society First Response

Jonatan A. Lassa, Iskandar Leman, Avianto Amri, Djoni Ferdiwijaya, Damaria Pakpahan, Arshinta, Aktivitas Sarumaha, Sabastian Saragih, Hening Purwanti, Saut Sagala

Acknowledgement.

This paper does not represent a particular civil society organization or institutions in Indonesia. We are a group of indenpendent individuals and DRR practitioners/ academia who put together their observations and ideas into one single feedback paper to ISDR.

Kursus Standar kompetensi kerja nasional Indonesia (bidang kemanusiaan) di Jakarta (17 Maret 2012)

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia mengundang Bapak/Ibu untuk mengikuti "Kursus Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (bidang kemanusiaan)", yang akan diadakan pada :
 
Hari/tanggal : Sabtu, 17 Maret 2012 (1 hari)
Pukul : 08.00 sd 17.00 WIB
Tempat : Di Jakarta
 

Pelatihan Sphere Dasar" tgl 2-5 April 2012 dg acuan Sphere 2011 versi Ind

Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) akan menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Sphere Dasar 2011,yang akan dilaksanakan pada Selasa-Jumat, tanggal 27-30 Maret 2012 (4 hari) di Jakarta/Jawa Barat.

CARR Governance Indonesia 3rd Issue

Third Issue: January 2012
Focus: Culture and Disasters: A Beautiful Mind of Indigenous Flood
Legend From Papua.

For January 2012, CARR focuses on local knowledge preserved in the almost forgotten flood legend from Arso, Keerom, Papua Province, Indonesia. The authors argue that the Arso's flood legend reflects the beautiful mind of the indigenous people of Arso.
Today, policy makers and young generations see the legend as an

The Inter-Agency Network for Education in Emergencies (INEE)

The Inter-Agency Network for Education in Emergencies (INEE) Jejaring Antar Lembaga untuk Pendidikan dalam Situasi DArurat adalah suatu jejaring terbuka global perwakilan-perwakilan dari NGOs, badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemerintah, lembaga pendidikan, sekolah-sekolah dan masyarakat terkena bencana yang bekerja sama untuk memastikan semua orang memperoleh hak atas pendidikan yang bermutu dan aman dalam situasi darurat dan pemulihan pasca krisis.   

Laporan Kondisi Kesukarelaan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global

Laporan Kondisi Kesukarelaan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global

The United Nations Volunteers (UNV) meluncurkan “Laporan Kondisi Kesukarelawanan Dunia 2011: Nilai-nilai universal untuk kesejahteraan global (State of the World’s Volunteerism Report 2011: Universal Values for Global Well-being)" pada tanggal 5 Desember 2011 New York, Amerika Serikat. Laporan ini diharapkan dapat meningkatkan pengakuan, fasilitasi, dan promosi jaringan di seluruh dunia kesukarelaan. Ini juga akan meningkatkan pengakuan atas peran penting dari UNV sebagai organisasi yang menetapkan standar dalam damai dan pembangunan, serta kesukarelaan, dalam sistem PBB.

Focus: “Do you want to be a man or a woman in the reincarnation?” A reflection on gender after disaster in Nias Island, Indonesia!

Focus: “Do you want to be a man or a woman in the reincarnation?” A reflection on gender after disaster in Nias Island, Indonesia!

Foto-foto KN PRBBK VII

Foto-Foto KN PRBBK VII dapat Diakses di Website MPBI

Jakarta, 14 Desember 2011

Peran OMS dalam Pemulihan Bencana Pasca Erupsi G. Merapi oleh Eko Teguh Paripurno

Peran Organisasi Masyarakat Sipil dalam Pemulihan Bencana Pasca Erupsi G. Merapi
Oleh: Eko Teguh Paripurno
Pusat Studi Amanajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta

pemulihan belum selesai.
mari kita lakukan pemulihan yang lebih baik.

Kebijakan RR Berbasis Pemberdayaan Masyarakat oleh Bambang Sulistianto

Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Berbasis Pemberdayaan Masyarakat
Oleh: Ir. Bambang Sulistianto, MM
Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB

LATAR BELAKANG

  • Kebijakan pembangunan perlu mengakomodasikan PB agar kegiatan PB pada semua tahapan memberikan manfaat bagi masyarakat  di bidang ekonomi, sosial, politik, keamanan  & lingkungan.
  • Kegiatan rehab & rekon merupakan bagian penting dalam rangka memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Pendekatan Kultural dalam Relokasi oleh Rani Sjamsinarsi

Pendekatan Kultural dalam Relokasi
Oleh Ir. Rani Sjamsinarsi, MT
Kepala Dinas PUP-ESDM PROVINSI DIY

Kerusakan Infrastruktur Publik, Korban dan kerusakan milik masyarakat

Ke-PU an
61,8 Km Jalan
26 Sabo Dam
64 Sistim Perpipaan Air Minum Pedesaan (SPAMDES) , tidak bisa berfungsi
3 Sistim PDAM tidak berfungsi
51 bendung tidak berfungsi
22 Jembatan putus
2 intake Saluran Induk Irigasi tertutup material

Mendesakkan Komunitas dalam Pemulihan Pasca-Bencana oleh Hasan Bachtiar

Mendesakkan “Komunitas” dalam Pemulihan Pasca-Bencana: Refleksi atas Pengalaman Advokasi FPRB-DIY dalam Pemulihan Pasca-Bencana Erupsi dan Lahar Gunungapi Merapi 2010—2011

Oleh Hasan Bachtiar

Seperti sudah banyak diketahui khalayak, Bencana Gunungapi Merapi 2010—2011 di Provinsi DI Yogyakarta, yang sekaligus melanda pula Provinsi Jawa Tengah, dalam kerangka kebijakan penyelenggaraan penanggulangannya, telah diputuskan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk “dipilah” menjadi dua, yakni Erupsi dan Lahar, yang berlangsung sebagai suatu rangkaian peristiwa. Bencana Erupsi Merapi 2010 telah menimbulkan korban manusia sebanyak 386 jiwa, penduduk mengungsi selama tanggap-darurat mencapai 15.366 orang, perkiraan nilai kerusakan dan analisis kerugiannya mencapai Rp3,628 triliun, serta estimasi biaya pemulihannya menembus angka Rp1,350 triliun;  sedangkan kronologi, akibat, dampak, hingga kebutuhan pemulihan pasca-bencana Lahar Merapi 2011, sampai naskah ini ditulis, belum pernah secara resmi disiarkan oleh otoritas penanggulangan bencana nasional maupun daerah kepada publik.

Strategi Adaptasi Respon Pemerintah dan DPRD Mengintegrasikan PRB oleh Nuwirman

Strategi Adaptasi terhadap Respon Pemerintah dan DPRD dalam Mengintegrasikan Agenda Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dalam Kebijakan Pembangunan Daerah
Oleh: Nuwirman

a. Pengantar

Sebagian besar daerah kabupaten kota di Sumatra Barat merupakan daerah rawan bencana. Tidak sedikit masyarakatnya “masih merasakan” dampak gempa 30 September 2009 (psikis, psikologis, sosial budaya dan ekonomi), dampak gempa dan tsunami Mentawai dan banjir bandang di Pesisir  Selatan. Fakta menunjukan, bahwa pemerintah daerah memiliki “keterbatasan anggaran” untuk upaya-upaya“kesiapsiagaan-mitigasi bencana”. Kondisi di atas berkontribusi pada ketidak berdayaan masyarakat, dan dalam banyak hal masyarakat di pelosok memiliki akses yang rendah terhadap dukungan anggaran pemerintah untuk upaya upaya mitigasi dan kesiapsiagaan. Dimaklumi bahwa sebagian besar anggaran daerah disedot oleh belanja pegawai. Oleh karena itu, sinergi proses partisipatif dari musrenbang dengan proses teknokratis dan politis menjadi sangat penting. Keterbukaan, inovasi, kerjasama multipihak dan kreatifitas sangat diperlukan karena kita tentu saja tidak bisa hanya mengandalkan APBD untuk membiayai upaya-upaya pengurangan risiko bencana (PRB).

Praktik Desa Tangguh di Yogyakarta dan Jawa Tengah oleh Untung Tri Winarso

PRAKTIK PENGEMBANGAN DESA TANGGUH DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH OLEH PERKUMPULAN LINGKAR
Oleh: Untung Tri Winarso
(Anggota Perkumpulan Lingkar Yogyakarta)

LATAR BELAKANG

Komunitas sebagai pelaku utama dalam menggali informasi, menganalisis, menyimpulkan, merencanaan, melaksanaan, memantau dan mengevaluasi kegiatan untuk mengurangi kerentanannya sekaligus meningkatkan kemampuannya. Prakarsa atau inisiatif lokal dari masyarakat dipercaya efektif untuk mengurangi risiko bencana, sebab masyarakatlah yang memahami wilayah dan kebutuhannya serta mampu menggunakan kemampuannya bagi perubahan diri dan lingkungannya. Pengembangan Desa Tangguh dilaksanakan untuk mencapai komunitas yang mampu mengelola risiko dengan memaksimalkan sumber daya yang ada di komunitas tersebut. Komunitas yang tangguh diartikan sebagai komunitas yang dapat mengelola tekanan atau kekuatan yang menghancurkan (menyerap, mengurangi, menahan, mengalihkan, menghindar, adaptasi) dengan mempertahankan struktur dan fungsi aset penghidupan untuk memulihkan diri setelah bencana.

Pemulihan Anak Pasca Bencana oleh Wiwik Sulistyaningsih

PEMULIHAN ANAK PASCA BENCANA:
Pelibatan Komunitas untuk  Hasil Intervensi yang Efektif

Wiwik Sulistyaningsih
Staf Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
wiwiksulistya@yahoo.co.id

Abstrak

Komunitas anak sebagai kelompok rentan dalam situasi bencana telah mendapatkan perhatian yang cukup di berbagai daerah rawan bencana. Refleksi pengalaman di lapangan menemukan bahwa tanpa adanya pelibatan komunitas di lingkungan anak akan berakibat timbulnya sikap penolakan masyarakat di awal, sikap pasif saat pelaksanaan, hingga enggan mendukung program psikososial yang dilakukan.  Hal ini selain menimbulkan inefisiensi juga merugikan mengingat besarnya dana yang biasanya dianggarkan untuk kegiatan tersebut.