You are hereBanjir

Banjir


Villagers empowered to deal with disasters

Villagers empowered to deal with disasters
Tifa Asrianti, The Jakarta Post, Ende | Tue, 12/28/2010 10:45 AM | National

The sound of the kentongan, the traditional bamboo bell, resonate through the empty streets of Tanali village in Ende, Flores Island. The rhythm escalates, indicating that floodwaters would soon reach the village.

Villagers turn to local wisdom to manage disasters in Ende

Villagers turn to local wisdom to manage disasters in Ende
Tifa Asrianti, The Jakarta Post, Ende | Mon, 12/27/2010 9:12 AM | National

Rosalia Bela, 43, shudders whenever she recalls the great flood of 1979 that swept over her hometown of Tanali village in Wewaria district, Ende, Flores.

At the time, rain poured for almost one week. Awoken by the sound of rushing water, then 12-year-old Rosalia quickly ran to a hill near her village. “I couldn’t save anything from the house. Everything was swept away. Even my little brother fell victim to the disaster,” she said.

In Flood-Prone Flores, Villagers Fight To Keep Their Heads Above Water

In Flood-Prone Flores, Villagers Fight To Keep Their Heads Above Water
Nivell Rayda | December 22, 2010

Two residents of Tanali village in Flores repairing a three-meter-high flood barrier. Despite such precautions, deforestation often sets off flash floods that wreak havoc on homes and crops. JG Photo/Nivell Rayda Two residents of Tanali village in Flores repairing a three-meter-high flood barrier. Despite such precautions, deforestation often sets off flash floods that wreak havoc on homes and crops. JG Photo/Nivell Rayda

Ende, East Nusa Tenggara. After just two hours of rain on Dec. 14, the Lowodaga River on Flores began to overflow, its waters flooding the rice fields and the courtyards of homes in the sleepy village of Tanali in the island’s Ende district.

“The water level reached here,” Carolus Bange, a former village chief, told the Jakarta Globe, pointing halfway up a three-meter-high river barrier built from rocks wrapped in chicken wire.

Puluhan Wilayah Sumatera Barat Terancam Banjir dan Longsor April Ini

Puluhan Wilayah Sumatera Barat Terancam Banjir dan Longsor April Ini 
Jum'at, 09 April 2010 | 10:28 WIB

TEMPO Interaktif, Padang - Sembilan kecamatan di Sumatera Barat berpotensi banjir bandang dan 43 kecamatan lainnya berpotensi terjadinya gerakan tanah menengah hingga tinggi yang bisa menyebabkan longsor pada April ini.

Kesembilan kecamatan itu enam di Padangpariaman, yaitu Sungai Limau, Sungai Garingging,  V Koto Kampung Dalam, Lubuk Alung, VII Koto Bagian Utara, dan Batang Anai. Tiga lainnya di Kabupaten Agam, yaitu IV Angkat Candung, Banuhampu Sungai Puar, dan Lubuk Basung.

Banjir Bandang Tapsel Akibat Ilegal Logging

Banjir Bandang Tapsel Akibat Ilegal Logging
08:53 | Friday, 9 April 2010

MEDAN-Gubsu Syamsul Arifin SE berpendapat, banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu di Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan, terjadi karena maraknya praktek ilegal loggging di daerah itu.

“Bencana datang biasanya disebabkan beberapa faktor. Untuk banjir bandang di Tapsel, kemungkinan besar dipengaruhi faktor lingkungan yakni kerusakan lingkungan yang terjadi,” kata Syamsul saat meresmikan Radar Cuaca dan Kalibrasi di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah 1 Sumut Jalan Ngumban Surbakti Medan, Kamis (8/4).

Floods claim two lives in Pasuruan

Tuesday, February 2, 2010 10:41 AM
Floods claim two lives in Pasuruan

The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Sat, 01/09/2010 10:05 PM  |  National

At least two people were killed as floods hit the East Java town of Pasuruan on Saturday.

Local media reported the two people were swept away by the raging river that flows through Pandaan district, one of the three areas hit hardest by the disaster. The dead victims have remained unidentified as of Saturday evening.

Banjir di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat

Banjir di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat
Senin, 01 Februari 2010 14:34

Sejak tanggal 27 Januari 2010 terjadi banjir di 4 desa (Desa Linggar, Desa Sukamulya, Desa Jelegong, dan Desa Bojongloa) di Kec. Rancaekek, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Tidak ada korban meninggal dunia, luka-luka maupun pengungsian. Pasien yang dirawat jalan di Pos Kesehatan sebanyak 399 orang.  Persentase penyakit potensial KLB  yaitu sebagai berikut : Dermatitis (28,07%), ISPA (14,29%), Diare (5,26%) dan Conjungtivitis (3,01%).

Pembelajaran dari Bencana Situ Gintung

MPBI News, Jakarta
Apa yang bisa dipelajari dari kasus bencana jebolnya Bendungan Situ Gintung? Komponen-komponen kerentanan apakah yang menyebabkan bencana itu terjadi? Bagaimana sebaiknya langkah yang kita pilih agar peristiwa tersebut tidak terulang  di bendungan lain? Itulah pertanyaan-pertanyaan utama yang diajukan dalam acara “Lokakarya Sehari Uji Implementasi Kebijakan Penanggulangan Bencana di Indonesia, Studi Kasus Situ Gintung: Hak Perlindungan Masyarakat terhadap Bencana” pada tanggal 30 April 2009 di Sekretariat Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI). Acara yang dilaksanakan oleh MPBI ini dihadiri oleh 20 orang peserta dari unsur pemerintah, LSM nasional/lokal, LSM internasional, perguruan tinggi dan media massa.

FGD Pengurangan Risiko Banjir di Jabodetabek

MPBI News, Jakarta Karakteristik perkotaan DKI Jakarta telah berkontribusi dalam kejadian banjir di kota ini. Kenyataan dengan adanya sekitar 12 juta penduduk tinggal di Jakarta, karakteristik geografis tanah, serta jumlah penghuni daerah kumuh yang tinggi di sepanjang tepi sungai atau di daerah pemukiman yang padat adalah contoh dari masalah rumit yang dihadapi oleh pemerintah daerah. Ditambah dengan masalah perubahan iklim yang memperburuk situasi, dirasakan adanya kebutuhan untuk mendiskusikan serta melakukan tindakan secara menyeluruh dan simultan yang melibatkan pemerintah dan masyarakat dengan dukungan sumber daya dari berbagai pihak.